truthology

sebuah pemahaman tentang sesuatu, mempunyai proses perjalanan yg sangat panjang .

teori timbul karena adanya sebuah kejadian yang ditelaah, diuji, diukur , disimpulkan dan diformulasikan. takaran nilai tentang sebuah kejadian , bisa tergantung pada kualitas prosesor atau pengolahan data. itupun juga masih harus didukung dengan nilai ukur dari sesuatu yang lain yang bersifat universal untuk mencapai nilai standar yang tidak memihak.

nilai kebenaran akan bisa terukur jika semua syarat komponen sudah terpenuhi.

sistem mikro dan makro yang ada di alam semesta bisa menjadi salah satu tolak ukur tentang nilai kebenaran.

kebenaran itu adalah kenyataan yang terjadi.

sedangkan nilai kebenaran adalah kesimpulan yang ditarik dari kebenaran yang terjadi itu.
sisi pandangnya mengikuti subyek pelaku beserta klasifikasinya.

semoga kita bisa mengurai nilai kebenaran yang berlapis-lapis ini

tekhnologi

Jika didefinisikan secara global, kehidupan ini adalah suatu perjalan menuju ke, dimana definisi ini mencakup keseluruhan sistem di kehidupan ini.
Secara materi, teori menuju ke ini bisa diartikan dari ada menuju ke tidak ada,atau dari suatu kondisi /tempat menuju ke kondisi /tempat yang lain. Dari pertemuan sperma dan sel telur, menjadi daging dan tulang yang kemudian secara perlahan terbentuk menjadi seorang bayi dalam kandungan. Setelah lahir, menjalani hidup dan kemudian mati. Bukankah ini juga sebuah proses menuju ke ? Dari alam kandungan menuju ke alam dunia dan berakhir di alam baka(akherat).
Dalam proses menuju ke inilah, terjadi sebuah usaha yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang terbaik pada tahap akhirnya.Di kehidupan dunia, manusia berusaha untuk mendapatkan yang terbaik dari apa yang mereka inginkan di hasil akhirnya, baik itu untuk kehidupan dunia maupun akherat.
Usaha untuk mencapai hasil yang diinginkan itu pasti membutuhkan suatu cara untuk mempermudah dalam mencapainya.Cara inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Teknologi.
Jadi, teknologi adalah hasil dari suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu, baik itu berupa suatu sistem,alat maupun cara atau metode.
Kita, sebagai manusia diberi fasilitas intern yang sangat luar biasa oleh Sang Pencipta , untuk berproses mendapatkan hasil yang terbaik di kehidupan ini. Fasilitas ini sebenarnya juga bisa dikatakan sebuah teknologi dari Sang Pencipta yang berwujud potensi yang ada di diri kita, yang hampir kebanyakan orang kurang mengenal dan bahkan belum mengetahuinya.
Tehnologi ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu tehnologi otak, hati dan raga.
Otak
Otak mempunyai program yang berisi memori, akunting, analizing, creating dan prosesing. Otak mempunyai 2 karakter memori dasar, yang pertama memori gen dan yang kedua memori alami. Penambahan karakter memori akan terjadi jika ada akses informasi yang masuk dan ketika pada tahap perkembangan.
Memori gen didapat dari kualitas turunan orangtua,semakin banyak memori orangtua ttg apapun, semakin menentukan beberapa persen kualitas memori anak. Memori alami adalah memori dasar yang dibawa manusia sebagai makhluk yang sempurna sejak lahir,yang cenderung bersifat naluri.
Hati
Hati adalah dimensi penentu kualitas arah kehidupan, dimana di dalamnya selalu terjadi tarik menarik antara kutub positif dan negative.
Ketika hati bersih dan suci, arah otak akan mengikuti secara sinergi apa yang di inginkan hati. Ketika hati kotor dan terkontaminasi distorsi sana sini, maka otak juga akan mengikuti secara terpaksa kemana arah hati tersebut.
Posisi tengah antara otak dan hati adalah emosi, yang selalu sibuk sana sini untuk mencari posisi yang pas( walaupun prosentase yang dicapai sering tidak pas).
Raga
Raga adalah infrastruktur yang akan menghantarkan sebuah team ( manusia dengan multidimensinya) kea rah yang diinginkan.
Jika di ibaratkan computer, otak dan hati adalah software dan raga adalah hardware nya.

TOBAT

ada bberapa kesimpulan tafsiran sehubngan dg kata “tobat”,sesuai dg acuan pd ayat2 Al Quran dan keterangan dlm hadits Rosululloh.
semua mengacu pada perbaikan diri dlm hubungannya dengan Allah, yg nantinya pasti akan mengimbas pd hubungannya dengan lingkungannya.
dalam format textual, sering kita temui bentuk kegiatan tobat atau definisi tobat secara umum sbb:
ketika seseorang melakukan pelanggaran iman( maksiat dkk), maka orang itu ketika melakukan tobat , akan menyesali perbuatannya dan tidak akan melakukannya lg.itu secara umum.
definisi tobat secara umum lg adlah : menyesali perbuatan buruknya(pelanggaran iman), berjanji untuk tidak melakukannya lg dan merubah cara hidupnya dg lebih baik.
dari uraian diatas, maka saya akan berusaha menyimpulkan definisi tobat secara lebih luas :
tobat adalah sebuah usaha perbaikan sistem dalam hidup, untuk menuju lebih baik secara kualitas dan bersifat multidimensi.
maksudnya adalah bentuk konkret tobat berupa paket multi dimensi, sesuai dg dimensi yg ada pd diri kita.
sehubungan dg dimensi kita, berarti tobat meliputi beberapa komponen dimensi yg ada pd diri kita :
fisis dan metafisis.
karena, jika dilakukan dg satu dimensi saja, ternyata perbaikan sistem itu kurang lengkap, akan timpang dan bisa menimbulkan msalah baru lg.
sbg contoh :
ketika hati benar2 berniat untuk tobat, jika tidak diikuti oleh komponen lain seperti otak dan raga,maka terjadi ketimpangan bentuk.
jadi, bentuk utuh tobat itu meliputi perbaikan sistem pada hati, otak dan raga, dengan dasar Al Quran dan hadits.
untuk lebih jelasnya, akan saya jabarkan satu persatu, sesuai dengan dimensi masing2 komponen.
bentuk tobat hati :
karena dimensi hati itu adalah dimensi metafisis (software), maka yg selalu berhubungan harus selalu dimensi metafisis.
hati adalah dimensi suci, jernih,halus, peka. jika tidak menyikapinya dg benar, akan terjadi kerusakan sistem dimensi suci,seperti iri, sombong, dkk.
kenapa terjadi kawatir, takut, stress dsb, karena terjadi salah penempatan dimensi. ketika dimensi hati ditempatkan pada dimensi dunia, maka akan terjadi kekacauan sistem.
sbg contoh, ketika seseorang terlalu mencintai sesuatu di dunia, (harta, anak istri dsb) dan tiba2 kehilangan yg dicintainya,maka sering terjadi kiamat psikologis (stress, sedih yg berkepanjangan dsb).
keterangan ini mengacu pada surat At Taubah ayat 24,dimana Allah menggambarkan batasan dimensi hati (metafisis)dg dimensi dunia(fisis).
untuk mencapai kondisi penempatan dimensi pada tempatnya,maka hati harus disuplai dg sesuatu yg sesuai dg dimensinya.dalam hal ini,didalam Al quran Allah menyebutkan bahwa kita harus selalu mensuplai hati kita dengan berdzikir kpd Allah( mengingat Allah, secara otomatis mengingat sistem yg Allah jabarkan dlm Al quran.)
bentuk tobat otak
Allah sering menyebutkan di dlm ayat2 Al Quran bahwa orang2 yg akan selamat ( masuk surga) adalah orang2 yg beriman dan berakal(berfikir).
dari sini, tertarik kesimpulan bahwa dimensi otak(akal danfikiran), dapat menuntun kita kepada keselamatan akherat, jika penggunannya disertai dg keimanan kepada Allah.
salah satu caranya yaitu dg mengenal sistem otak dg baik serta mengarahkannya ke arah otak(akal dan fikiran) yg sesuai dg kriteria Al Quran.
jadi, tobat otak berujud pada pengenalan sistem pada otak, memahaminya dan melakukan perbaikan kualitas baik dari sisi kapasitas informasi (database) maupun sistem pengolahan data (prosesor).

to be continue……

mind

pikiran adalah salah satu komponen penting ddalam sistem di diri kita.
pikiran meliputi :
mengingat, menghitung, menelaah, memahami, memproses.
bedanya dengan akal?
akal:
mencipta, memproses, bersiasat.
pikiran dan akal bersama-sama dalam memproses.
anak kecil(balita) , mempunyai daya fikir yg terbatas, sesuai dg usianya.
tapi, akalnya sudah hampir menyamai orang dewasa.
coba anda pelajari baik2 ,jika ada balita disekitar anda.
kenapa orang sampai melakukan hal2 yg diluar batas kewajaran( negaif : spt korupsi, menipu, dsb)? karena hanya prosentase akal yg lebih besar drpd pikiran.
saya sempat membuat survey selama beberapa tahun ttg teori ini.
pikiran cenderung obyektif, apa adanya /proporsional.
akal cenderung subyektif , kadang mengada-ada.
nilai2 negatif pd diri manusia berpotensi bercokol pada akal.
tb cont…

formulasi huruf2 hijaiyah (3)

kaligrafi-1p1

seiring dengan beraneka ragamnya amalan2 yg bermunculan baik itu berupa sebuah kata/kalimat dr kumpulan huruf2 hijaiyah maupun bbrp kalimat penggalan dr suatu surat di dlm Al Qur’an yg dibaca berulang dg jumlah tertentu, bermunculanlah pembenaran konsep2 toreqoh dr beberapa individu mursyids (jamak : banyak).
dalam artian ada beberapa pelaku toreqoh yg sudah setingkat mursyid secara kilaf melakukan pembenaran teori, bahwa amalan dialah yg paling top atau puncak dari semua amalan.
subhanallah dan astaghfirullah plus na’udzubillahi min dzalik….
saya pernah bertanya kpd salah satu ulama , bgmn asal muasal tiap kyai itu mempunyai amalan yg berbeda-beda ( walaupun dr satu sumber yg sama : Al Quran).
ternyata, ketika seorang ulama benar2 sedang ingin menyatu dg Allah (baca : sifat Allah) , dan mengamalkan beberapa ayat Al Quran, mereka mengalami beberapa kejadian yg bermacam-macam.
contoh :
ketika seorang ulama membaca Al Quran di dlm masjid dan benar2 lupa segala-galanya ( hanya Asma’ Allah yg ada dihati,fikiran dan tubuh mereka),tiba2 ketika sadar sudah ada di tengah2 kerumunan orang bertowaf di sekitar Ka’bah..subhanallah…logikanya?nanti dulu…
contoh lagi :
ketika seorang ulama membaca subhanallah berulang2 dengan satu keinginan ingin mendapat ridho dan ampunan Allah, tiba2 dia terangkat keatas dg posisi tetap bersila …subhanallah lagi…
contoh lagi juga :
ketika seorang pelaku iman membaca sebuah ayat dr Al Quran dg tujuan hanya ingin menambah keimanan dan kecintaan kpd Allah, tiba2 muncullah beberapa kejadian di depan matanya, yg ternyata kejadian itu sdg dialami oleh seseorang yg dia kenal..subhanallah …

dan banyak lg beberapa contoh (kejadian nyata) yg dialami para pelaku iman (mayoritas para ulama) sehubungan dg amalan2 dr kumpulan huruf2 hijaiyah yg ada dlm Al Quran.
dr kenyataan ini, tertarik kesimpulan sementara bahwa Allah memberikan bukti kesempurnaan Al Quran yg berbeda kpd setiap orang.
jadi, kebenaran yg terjadi pd tiap2 pelaku iman (baca : ulama), adalah suatu proses menuju kebenaran hakiki(kebenaran Allah ), bukan hasil akhir dr suatu perjalan.
semua tergantung dr prosentase kondisi iman ( niat, keikhlasan, kepasrahan dan keyakinan).
bahwa sebenarnya Al Quran adlah formulasi huruf2 hijaiyah dg nilai2 kebenaran yg berlapis-lapis dan tanpa batas ( wallahu alam)…
pengamalan ayat2 al quran (dg mambacanya) harus benar2 diimbangi dg pengamalan ayat2 Al quran dengan contoh yg nyata ( akhlak yg sesuai tuntunan Rosululloh ).
Allah menyebarkan nilai2 kebenaran Al Quran kepada setiap orang2 (muslim) yg benar2 serius dlm beriman, dg kapasitas dan jenis ilmu yg berbeda, dg tujuan supaya setiap orang beriman itu saling bersilaturachim dan bertukar pengalaman/ilmu sehubungan dg proses berkeimanan tsb.
jadi, jika ada seseorang yg sudah mendapat gelar ulama tapi tidak mau melakukan silaturachim kepada semua muslim ( penekanan : semua umat muslim), maka disitu terjadi pembohongan diri sendiri.
saya tidak bertujuan untuk memojokkan atau menyalahkan pihak2 tertentu, tapi mencoba mengajak bersama2 untuk sadar betapa pentingnya silaturachim, agar formulasi huruf2 hijaiyah dlm diri kita masing2 benar2 proporsional dan tidak salah arah.
semoga Allah mengampuni kita semua ….
amiiin yaa Robb Ya Maliikaa…

formulasi huruf2 hijaiyah (2)

kaligrafi-3p

melanjutkan pembahasan terdahulu, bahwa dari kenyataan yg disuguhkan baik melalui yg dicontohkan Rosululloh maupun pengalaman2 para ulama dlm melaksanakan apa2 yg dicontohkan Rosululloh ttg pengamalan ayat2 Al Quran, ada beberapa kesimpulan yg sangat menarik untuk kita kaji.
sebenarnya, semua kegiatan ibadah yg dicontohkan Rosululloh adalah suatu formulasi keimanan yg nantinya diharapkan akan bisa mewujudkan suatu kondisi yg dijadikan standar keimanan baik dari sisi intern ( takut, taat, dekat, cinta dan menyatu dg Allah) maupun dari sisi extern ( manusia sbg khalifah di muka bumi ini).
dari sisi pelaksanaan syariah ( raga), ada sholat, puasa, zakat, membaca Al Quran dan memahami maknanya, dzikir, dan beramal sholeh.
dari sisi pelaksanaan hakekat(hati), ada sabar, tawadu’, ikhlas, tawakal, istiqomah, qona’ah, dan pasrah kpd Allah.
itu semua adalah sebuah formulasi keimanan untuk bisa benar2 mencapai standar keimanan Al Quran dg artian yg sangat luas.
ketika seorang muslim bisa melaksanakan dan mencapai itu semua, maka dia akan menjadi sumber cahaya terang bagi muslim yg lain.
sumber cahaya disisni dlm artian yg luas, sesuai fungsi dr arti kata cahaya yaitu yg menerangi.
salah satu formulasi cahaya itu yaitu pengamalan ayat2 Al Qur’an, yg terdiri dr gabungan huruf2 hijaiyah.
sebenarnya setiap huruf hijaiyah mempunyai makna multi dimensi.
kenapa demikian?
kenapa Allah menurunkan kitab suci Al Quran melalui huruf hijaiyah, dan kita diwajibkan untuk mempelajarinya?
secara teknis, mengajarkan kita untuk rajin belajar.
sbg catatan, adalah bahwa ketika seseorang mempelajari bahasa lain (bukan bahasa ibu), maka secara otomatis dan tidak sadar meningkatkan kemampuan daya berfikirnya.
kenapa? karena ketika seseorang menggunakan bahasa selain bahasa ibunya, dia menggunakan logika ganda , yaitu pertama dia berfikir ttg arti kata dan kedua dia menyusun beberapa kalimat ke dlm sebuah pernyataan atau kesimpulan .
sungguh kenyataan yg sering diabaikan……
kembali lg ke bahasan awal, semua bentuk teori kebenaran islam dan hukum2 syariat yg terkandung di dlm Al Quran, merupakan susunan dr huruf2 hijaiyah yg akan membentuk sebuah kata, kalimat2, ayat2, surat2 dan juz.
semua itu terbentuk dari formulasi huruf2 hijaiyah…!
kenapa Allah membrikan contoh kemandirian huruf2 hijaiyah yg penuh teka-teki pada awal surat :
alif laam miim, alif laam ra’, alif laam shad dan atau pd tengah ayat : kaf ha ya ain shad, ha mim ain syin khof?
ketika kita membaca terjemahan Al qur’an, disitu tertera sebuah keterangan : hanya Allah yg mengetahui maknanya…memang mutlak kebenaran keterangan itu.
tapi jgn lupa pada sebuah penggalan ayat Al qur’an yg berbunyi : “..dan akan dibukakan semua hijab Allah bagi orang2 yg beriman …”
“hijab” artinya penutup atau sekat pembatas.
mata telanjang kita mempunyai hijab/penutup, sehingga mempunyai kemampuan yg terbatas dlm mensinyalir visual metafisis.
hati seorang yg lalai, tertutup akan kebenran Allah
hati seorang pembelajar masih perlu pendalaman utk mengetahui makna2 yg tersirat…
nah, formulasi huruf2 hijaiyah yg berwujud bentuk ibadah yg dicontohkan Rosululloh tsb, jika dilaksanakan dengan benar,disiplin dan istiqomah, akan membuka hijab2 tersebut.
insyaAllah dan wallahu alam…

to be continue….

formulasi huruf2 hijaiyah (1)

kg-21

begitu banyak kajian tentang nilai2 kebenaran Al Quran, begitu banyak explorasi ayat2 Quran, dan bagitu banyak penyalah arti dan gunaan gabungan huruf2 hijaiyah ( ayat2 Quran).
penyampaian nilai amalan dari rosulullohpun menjadi perdebatan antara kaum “textual” dan “kontextual”.
memang benar bahwa Rosululloh memberi tuntunan tentang pengamalan ayat2 Al Quran, baik amalan yang di wirid maupun berupa do’a2 sesudah sholat ataupun do’a2 lainnya.
memang benar bahwa Rosululloh mengajarkan untuk membaca Subhanallah 33 x dst,.
tapi, salahkah jika seorang muslim ingin mengamalkannya tanpa batas jumlah angka ? ada apa dibalik batasan angka yg dicontohkan Rosululloh?
polemik,….perdebatan tiada tepi…..
tapi, marilah kita coba menelaah dengan hati dan fikiran yg jernih, untuk menuju ridho Allah kepada semua hamba yg dicintai Nya..
untuk mengkajinya secara obyektif, saya akan memberi contoh nyata tentang beberapa amalan yg pernah saya pelajari dari beberapa ulama , untuk jadi bahan kajian bersama…
sebenarnya tujuan utama untuk membaca/mengamalkan ayat2 Al Quran adalah agar selalu ingat kepada Allah, dan otomatis cara berkehidupannyapun selalu bercermin dan berdasar pada hukum2 Allah.
ada beberapa ulama yg menganjurkan untuk membaca Asmaul Husna sebanyak2 nya, agar bisa “menyatu” dg sifat2 Allah ( bukan menyatu dg Allah).
ada ulama yg menganjurkan membaca sholawat(yg jenis dan jumlahnya banyak sekali) sebanyak2nya, agar supaya selalu ingat atas apapun yg diajarkan Rosululloh.
ada yg menganjurkan untuk membaca Al Ikhlas selama keluar rumah, agar apapun yg kita lakukan dan kita alami selalu kita kembalikan kpd Allah. ..wallahu alam,,,..
ini semua dilihat dari sisi pandang keimanan.
ketika ada bocoran dari ulama ttg “efek samping” metafisis dari amalan2 tersebut, maka akan menjadi lain persoalan, karena akhirnya kebanyakan yg dikejar orang2 adalah “efek samping” dr amalan tsb.
contoh, jika sering mengamalkan surah Al Waki’ah, insyaAllah rizkinya lancar dan terus bertambah.
padahal, jika kita telaah, Surat Al Waki’ah bercerita ttg akherat .
apa hubungannya dg rizki?
ternyata ada hubungannya dg teori sebab akibat dari salah satu kutipan dr ayat Al quran : “…peliharalah akheratmu, maka Ku pelihara duniamu….”.
maksudnya, jika kita memelihara akherat (raga,otak dan hati selalu beriman kpd Allah), maka duniapun akan mengikuti kita.
logikanya kr2 spt ini :
ketika ROH (raga,otak,hati) kita selalu terjaga dan mengikuti sistem Allah, ternyata secara otomatis cara berfikir, bersikap dan bertyindak kita menjadi proporsional dan profesional, sehingga ketika kita mengurusi masalah dunia (bisnis, bekerja dsb) akan terstruktur dan terstrategi dg baik, otomatis juga akan terjaga dunia kita.
itupun tidak lepas dari teori : tempetkanlah sgl sesuatu pada tempatnya :
pikiran : tempatnya pada sesuatu yg mampu kita fikirkan
hati : tempatnya di zona suci allah(akherat)., jd hati selalu ingat akan akherat
raga : tempatnya pada kejadian, yaitu bertugas untuk melaksanakan apa2 yg sudah dirumuskan oleh hati dan otak.
akan terjadi kontroversi dimensi dan kekacauan sistem , ketika :
fikiran tdk untuk berfikir,
hati ditempatkan di dimensi dunia ( ditempatkan di benda2 dunia ),
raga tdk diajak untuk bergerak.
acuan teori hati terdapat pada surat At Taubah ayat 24
bahwa hati adalah mutlak kepunyaan Allah, cinta yg bersemayam di hati adalah mutlak (seharusnya) hanya untuk Allah…
untuk bisa dan mampu mengungkap rahasia dimensi ini semua, haruslah dengan pengalaman pribadi yg mungkin jika diungkapkan secara nyata akan menimbulkan berbagai kontroversi, terutama bagi orang2 yg memang benar2 mengandalkan nilai2 yg tersurat, tanpa mengenal ampun menghujani tuduhan sebagai bid’ah, ketika ada beberapa nilai keimanan yg disimpulkan dr pengalaman pribadi secara mutasyabihat…
semoga Allah mengampuni kekhilafan kita semua…
amiiin…

to be continue…..

tekhnologi syari’at (2)

sebagai tindak lanjut dari artikel sebelumnya, tertarik kesimpulan bahwa jika kita bisa mengaplikasikan wudhu’ ke dlm kehidupan sehari2, maka insyaAllah akan terjaga kesehatan jasmani dan rohani kita.
melangkah ketahap lanjutan wudhu’ yaitu sholat.
banyak sekali uraian tentang sholat baik textual maupun kontextual.
disini saya mencoba mengkaji sholat dalam sisi ilmiah keimanan.
hampir sama dg wudhu’, sholat mempunyai fungsi ganda penyelamat hardware ( tubuh/fisis) dan software ( batin/metafisis) kita.
asal usul gerakan sholat
secara history islam, gerakan sholat didapat ketika rosululloh melakukan isra’ mi’raj ke zona suci Allah.
sehingga didapatkan gerakan2 sholat yg seperti skrg kita semua lakukan.
dengan tidak mengurangi rasa hormat dan tawadu’ terhadap nilai history sholat, saya sempat meneliti secara mendalam dan ilmiah tentang gerakan sholat.
informasi pertama saya dapatkan dari salah satu ulama wara’ bahwa bayi ketika dalam kandungan sedang melakukan sholat .
hal pertama yg saya fikirkan saat itu adalah bahwa itu adalah kalimat kontextual yg mempunyai makna tersirat.
tetapi selang beberapa bulan kemudian, saya menemukan artikel + foto uf dari seorang ilmuwan mualaf jerman, bahwa posisi dan gerakan bayi dlm kandungan persis dan sama dg gerakan sholat.
sangat disayangkan bahwa dokumen saya tersebut hilang entah kemana, tetapi jika di foto uf ulang pasti hasilnya akan sama, bahwa gerakan bayi dlm kandungan = gerakan2 sholat mulai takbiratul ikhram, ruku’, sujud dan duduk .
kesimpulan sementara adalah bahwa gerakan sholat itu adalah gerakan kodrat dari Allah sejak dari kandungan, terjadi kepada semua umat manusia!
dari kesimpulan kenyataan ini , bisa ditarik kesimpulan lg bahwa sebenarnya sholat itu adalah kodrat kebutuhan manusia , yg disempurnakan nilai multidimensinya ketika rosululloh mengalami isra’ mi’raj.
nah, dari sini, mari kita kaji nilai dunia akherat sholat.
hardware
gerakan sholat adalah gerakan terapi kesehatan paling sempurna yg pernah saya temui, jika dilakukan dengan tenang, rileks, konsentrasi dan tuma’ninah.
saya sempat menelusuri bentuk2 gerakan dari mulai yoga meditatif sampai senam dlm kungfu, dan semua gerakan sholat ada di semua teori gerakan terapi kesehatan, kecuali satu gerakan saja yg tidak ada di teori manapun, yaitu duduk tahiyat akhir.
gerakan ini sedang dalam pengkajian .
telaahan :
grakan takbiratul ikhram berfungsi mengendurkan saraf leher dan urat2 pundak dan belikat.
rukuk berfungsi melatih kekuatan otot punggung dan menarik urat2 kaki bag belakang .
sujud berfungsi ganda : mensuplai oksigen ke bagian kepala (otak) dan menata ulang atau membenarkan letak isi perut.
duduk antara dua sujud berfungsi meregangkan urat2 paha dan tulang belakang.
salam berfungsi stretcing leher ( melemaskan otot2 leher).
fungsional gerakan ini akan terasa apabila gerakan sholat atau kegiatan sholat dilakukan dengan khusuk, rileks, konsentrasi dan tidak tergesa-gesa.
InsyaAllah akan selalu ikut menjaga stabilitas tubuh kita.
software
kajian software sholat akan lebih luas atau lebih kompleks, karena menyangkut beberapa hal.
pertama-tama kita harus mengetahui dan mengerti serta memahami bacaan2 di dalam sholat, sehingga bisa menghayati ritual multidimensi sholat ini.
jika kita benar2 faham isi dan makna serta kandungan dlm bacaan2 sholat serta mengamalkannya, maka secara otomatis iman kita akan terjaga.
contoh :
Allahu Akbar..:
dengan menghayati makna kebesaran Allah, maka tiada akal secanggih apapun yg akan mampu melogika kebesaran Allah tetapi hanya hatilah yg akan berhubungan dengan Dzat Yang Maha Besar, krn ketika kita memejamkan akal, yg terlihat hanya kebesaran allah.
terbukti,ketika kita membiarkan akal turut dlm sholat, yg terlihat atau terfikir adlah hal2 lain spt mslh2 yg belum kelar, kejadian yg menyakitkan sebelum sholat, kepikiran hutang dsb.
“…inna sholati wanusuki wamah yaya wamamati lillahi robbil alamin..”
jika kita menerapkan bacaan ini dlm kehidupan sehari-hari, maka tiada kesedihan, kekawatiran, riya’, ujub, iri, dengki, sombong, dsb , kecuali rasa ikhlas, pasrah, yakin kpd Allah dan menghadapi hidup ini dengan benar2 lillahi ta’alaa….
tapi, ternyata dlm prakteknya, masih banyak diantara kita yg diselimuti rasa cemas akan keselamatannya, kawatir akan hartanya, takut akan jatuh miskin, riya dsb ketika selesai melaksanakan sholat. kenapa?
karena belum benar2 menyatu secara nyata dg “…inna sholati wanusuki wamah yaya wamamati lillahi robbil alamin..”.
belum benar2 pasrah, yakin dan iman kepada Dzat yang Maha pengatur segala kejadian.
semoga kita diberi kekuatan untuk belajar menyatu dengan “…inna sholati wanusuki wamah yaya wamamati lillahi robbil alamin..” di dalam sholat maupun kehidupan sehari-hari.
to be continue…..

TEKHNOLOGI SYARI’AT (1)

Islam adalah tekhnologi segala jaman yang diturunkan Allah melalui ayat2 Al Qur’an, dengan penggunaan bahasa yang kompleks, dalam artian perlu keseriusan dalam mengurai nilai2 yang terkandung di dalamnya.

bahkan Rosulullohpun perlu memberikan penjelasan2 baik berupa contoh perbuatan maupun keterangan2 yang terucap, dalam rangka menjelaskan isi kandungan Al Qur’an yang begitu luas dan sempurna, yang dirangkum oleh para sahabat dalam bentuk hadits2.

semua hal, baik yang tercontoh maupun terucap oleh Rosululloh merupakan tatacara/metode/tekhnologi yang mengantarkan umat manusia menuju ke kesempurnaan dunia dan akherat, walaupun secara umum sering dijabarkan bahwa islam adlah jalan menuju kepada Allah.

jika dijabarkan lagi, kalimat “menuju kepada Allah ” ini ternyata adalah kondisi dimana ketika kita mengalami keselamatan dunia dan akherat, yang penjabaran lanjutannya pun juga perlu pengkajian mendalam.

kali ini saya akan mengupas nilai2 syariat yg dicontohkan Rosululloh , ditinjau dari segi tekhnologi keselamatan, kesejahteraan dan ketentraman dunia akherat .

rukun islam

1. membaca 2 kalimah syahadat

dalam ulasan terdahulu sudah sempat saya kupas tentang teknologi 2 kalimat syahadat, yg intinya keseriusan dari nilai syahadat akan mengantarkan kita ke dalam keselamatan dunia akherat dg mengemban dan mel;akssanakan 2 sisi nilai syahadat itu sendiri.

2. mendirikan sholat

wudhu’

nilai keselamatan yg diberikan “wudhu’” ternyata jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan nilai yang diterngkan oleh guru ngaji saya waktu masih kecil.

menurut guru ngaji saya semasa kecil, wudhu’ itu berfungsi untuk membersihkan diri dari hadats kecil/besar, serta syarat sahnya sholat, titik.

ternyata, dibalik kesederhanaan keterangan itu, tersimpan nilai yg begitu dahsyatnya, sampai2 saya sempat membandingkannya dengan teori2 diluar islam tentang kesehatan mulai dari hydrotherapy sampai pijat refleksi.

didalam wudhu’, terdapat beberapa tips kesehatan yg sangat sempurna, jika kita melakukannya dengan benar (dengan ilmu yg tepat).

dari berbagai survey yg saya lakukan dan tanyakan kepada beberapa ulama, tatacara wudhu’ itu mempunyai kandungan kesehatan sbb

a. pembasuhan telapak tangan harus dilakukan dg menekan setiap ruas jari dan ruas antara jari2 dengan pelan dan beberapa kali, berfungsi sbg pijat refleksi tangan krn didaerah2 tsb sbg pusat2 syaraf yg berhubungan dengan anggota tubuh secara menyeluruh, shg jika dilakukannya dengan benar akan memperlancar peredaran darah kesekujr tubuh kita, shg tubuh kita selalu tetap segar dan sehat

b. berkumur adalah cara umum untuk membersihkan sisa2 makanan yg jika kurang bersih akan menimbulkan penyakit( gigi berlubang) atau bau mulut

c. membasuh muka disrtai dg membersihkan hidung , berfungsi membersihkan pori2 kulit muka dr sgl jenis kuman dan membersihkan kotoran hidung supaya pernafasan kita lebih longgar dan lancar dlm bernafas

d. membasuh lengan disertai dengan memijit daerah pangkal telapak sampai siku berfungsi mengendorkan saraf lengan, yg ternyata didaerah sisi dlm siku adalah pusat saraf untuk lengan sampai pundak.

e,. membasuh dahi/kepala berfungsi sbg hidroterapi didaerah kepala, yg jika terkena suhu air , tekanan suhu dalam kepala akan secara otomatis ternetralisr dr sgl jenis sakit pusing .

f. membasuh telinga, dilakukan dg cara memijat daun telinga secara melingkar ke arah luar( dari bawah ke atas), berfungsi mengendurkan syaraf bagian telinga, yg ternyata telinga merupakan salah satu pusat simpul saraf kepala,dan ini dilakukan jg dlm senam kesehatan yoga.

g. membasuh kaki, dilakukan dg cara hampir sama dg cara membasuh telapak tangan, karna di jarikaki dan antra jari kaki jg salah satu pusat simpul saraf yg jika dilakukan dg benar dan rutin, akan memperlancar peredaran darah di skjur tubuh, dan ini dilakukan di dlm pijat siatsu/refleksi.

dari uraian di atas, terkesimpul bahwa wudhu’ adalah merupakan salah satu cara hidup sehat yg disuguhkan islam kepada umat manusia.

jadi, orang2 yg jarang wudhu’(otomatis jarang sholat juga), jelas2 menolak untuk hidup sehat.

ini nilai fisis wudhu’.

sekarang kita masuk ke dalam nilai metafisis wudhu’, bahwa dg wudhu’ kita bisa menjaga iman kita.

bgmn penjelasannya?

jika kita telaah lebih lanjut, syaithon/setan dalam perjuangannya mengajak manusia berbuat dosa adalah melalui semua anggota wudhu’.

mari kita kaji.

ketika manusia akan mencuri, pasti dia akan berfikir dulu bgmn crnya spy tdk kthuan.pakai pikiran ( dahi/kepala), kemudian melaksanakan rencanya itu dg tangan dan kaki .

ketika seseorang marah, pasti yg memicu amarah adalah telinga dan mata. betul gak?

coba anda telaah dan ingat2 ketika anda marah, siapa yg menyebabkan anda marah?pasti telinga atau mata. meskipun jembatan amarah adalah sebuah kejadian yg sdg kita hadapi.

siapa yg memancing api ke arah telinga ? mulut!! jika tiada kt2 yg panas, telinga tdk akan terbakar dan takkan ada amarah. tul kan?

makanya ada nasehat ulama bahwa orang yg menjaga wudhu’nya setiap saat, insyaAllah dia akan terhindar dari dosa. karena pasti akan selalu menjaga perilakunya. apalagi dg berpuasa, semakin terjaga imannya.

saya pernah di berikan tugas oleh salah satu guru saya ( seorang ulama dr jawa timur), untuk menjaga setiap anggota wudhu’ saya setiap saat.

caranya ?

setiap apapun yg akan dilakukan oleh anggota wudhu’ kita , harus bermanfaat!!

melihat harus bermanfaat. mendengar harus bermanfaat. melakukan apapun harus bermanfaat. berjalan/ keluar rumah harus yg bermanfaat. berfikirpun juga harus yg bermanfaat.

meskipun berat, ttp alhamdulillah hasilnya sangat luar biasa!

tetapi kemudian saya dianggap orang aneh oleh orang2 disekeliling saya, karena menurut mereka cara hidup saya tidak umum!

dari uraian saya diatas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa dengan melakukan wudhu’ setiap saat ( pembersihan dan penjagaan anggota wudhu’), bisa mengantarkan kita menuju ikhtiar selamat dunia akherat.

akhirnya tertarik kesimpulan jg, kenapa kita harus wudhu’ dulu sblm sholat, karena ketika kita akan melakukan sholat, mulitidimensi kita harus benar2 suci terlebih dahulu, karena kita akan berkomunikasi dengan Dzat Yang Maha Suci.

to be continue…..

the one vs the matrix

jet-li11

ada nilai yang menarik untuk di kaji di balik film The One ( jet lee).

susunan kayalannya hampir sama  seperti yang pernah diceritakan salah satu guru toreqoh saya, yaitu bahwa di dalam diri kita ini ada berpuluh bahkan ratus lebih “kembaran” kita yang saling berebut untuk bisa diakui sebagai “tuan rumah” atau the master.

m3_hugo_weaving_0031

dalam kisah film the one yg dibintangi aktor mandarin jet li, semua kembaran itu berada di dunia lain2, dan ada salah satunya yg mencari semua kembarannya ke lain dimensi yg berjumlah 125 termasuk dirinya, untuk dibunuh semua sehingga akan ada 1 orang diantara kembaran2nya itu yg bisa hidup sbg pemenang.

hampir sama, tetapi versi berbeda, film Matrix ( dibintangi keanu revees) juga menyuguhkan khayalan , “yang”, di dalam dunia per “ilmu” an sudah tidak khayal lagi, bahwa dimensi halus kita bisa dengan sengaja keluar dari fisik/raga kita untuk tujuan tertentu ( dalam bahasa jawa nya : ngrogo sukmo). Dalam alam sadar/biasa, dimensi halus kita bisa “traveling” hanya jika kita dlm keadaan tidur.

sebenarnya, dimensi kasar(fisis) kita dan dimensi halus (metafisis) kita selalu saling terkait, karena ada beberapa hal/ bukti nyata yang mendukung teori tersebut.

mimpi basah : kenapa yg melakukan “kejadian” itu dimensi halus kita, tetapi raga yang harus menanggung “kebasahannya”?

santet : kenapa tanpa diketahui prosesnya, tiba2 ada beberapa jenis logam “hinggap” di dalam tubuh seseorang?   de materialisasi ?

di  beberapa penggalan ayat dalam Al quran, di terangkan bahwa di dalam diri kita ini, terdapat tanda2 kebesaran Allah bagi orang2 yg beriman dan berfikir.

maksudnya bahwa Allah telah menciptakan sistem yg berlapis di dlm diri kita, yg harus kita gali untuk mengetahui beberapa tanda2 kebesaran Allah.

dalam pengkajian makna sistem di film the one dan matrix, ada beberapa kesimpulan sementara yg bisa kita ambil , ketika kita berbicara ttg eksistensi dalam diri kita.

saya akan membuat studi banding, antara teori dlm film yg di visual futuristik kan, dg kenyataan/kebenaran yg ditemukan oleh beberapa “explorer” diri.

1. the one : perebutan ” diri” oleh beberapa “kloning” diri yg nantinya akan ada satu pemenang.

sebenarnya hampir sama dg apa yg terjadi pd diri kita, bahwa ada perebutan “diri” setiap detik dlm dri kita yg nantinya pemenangnya akan menentukan arah tindakan diri kita. bedanya dlm the one digambarkan secara nyata bahwa ada beberapa org yg sebnrnya satu orang yg sama tetapi berada di beberapa dunia yg berbeda.

2. matrix : explorasi diri untuk mengeluarkan “software” kita dg sengaja, dg tujuan tertentu.

di beberapa metode meditasi, spt dlm budha, yoga, kungfu, ilmu jawa dsb , ternyata menghasilkan explorasi yg sama spt yg digambarkan dlm film matrix, bedanya di film matrix digambarkan dg tekhnologi iptek masa depan.

bahwa manusia mampu meng explore dimensi “software”nya secara nyata dan disengaja.

dari ilustrasi 2 film diatas, akan saya coba jabarkan tekhnologi software manusia , dengan merujuk pada beberapa pelaku software ( ulama dan kaum berproses/toreqoh)

manusia mempunyai energi yg sangat luar biasa dan berlapis.

bentuk energi ini ada yg berupa gelombang frekwensi dan beberapa jenis energi cahaya.

tubuh, mempunyai energi gelombang dan cahaya, yg jika digali dg optimal akan menghasilkan energi yg bermanfaat bagi kita semua, spt penyembuhan alternatif transfer energi dan terapi aura.

mind power, banyak sekali yg memanfaatkannya .

ketika kita berfikir tentang sesuatu, ternyata tekhnologi otak merekam dan menghasilkan sebuah formulasi pencapaian apa yg kita fikirkan, jika buruk, hasilnya buruk, begitu jg sebaliknya.

manusia mempunyai bentuk energi yg berlapis, unik dan sangat kompleks.

ada beberapa ilustrasi yg akan membuat kita berfikir dan bertanya-tanya .

di dalam dunia keilmuan kanoragan atau kebatinan(khususnya di jawa/yg saya pernah tahu), ada banyak sekali keilmuan yg benar2 wujud nyata dari explorasi diri.

ada salah satunya yaitu SABDO TUHU atau ada yg menebutnya sabdo wali, yg jika sekali berucap langsung terjadi. saya berani bercerita krn saya pernah membuktikannya sendiri beberapa kali, seorang pelaku keilmuan berucap lgsung kejadian. wallahu alam…

dari kejadian ini, saya menyimpulkan bahwa setiap eksistensi dlm diri kita mempunyai energi atau power yg luar biasa .

di dlm filsafat cina dan jawa, hampir ada kesamaan dlm explorasi diri.

ada kekuatan air, api, udara , besi, tanah dsb yg ada dlm diri kita.

ketika saya telaah lg, ternyata didalam tubuh kita memang mengandung unsur2 alam tsb , spt :

air : hmpir 70% tubuh kita terdiri diri air

api : kita mempunyai suhu panas tubuh

udara : tanpa oksigen dlm tubuh, kita akan mati

tanah : seluruh tubuh kita mengandung beberapa unsur tanah.

nah, dari penjabaran ini, hampir terkuak benang merah hubungan antara fisis dan metafisis.

di dalam ilmu jawa, ada ilmu ngrogo sukmo, pecah sukmo, dan mukso ( menghilang).

ngrogo sukmo yaitu ketika seseorang mampu membuat “software” nya keluar dari “hardware”.

pecah sukmo, ketika seseorang mampu mengeluarkan lapisan energi cahanya keluar dari tubuh, dan cahaya itu ketika semakin jelas, visualnya sama dengan wujud raganya(wajah dan tubuh).

kenapa didalam ilmu jawa disebut ” sedulur”, menurut sesepuh ilmu jawa, sejarahnya ketika orang jawa kuno dulu pertama kali mampu mengeluarkan sukmonya dan berwujud sama dg nya, mereka tidak tahu namanya dan menyebut pecahan sukmo tab dg sebutan sedulur ( saudara).

ada sebutan juga sedulur kakang kawah adi ari2, jika dijabarkan ternyata sedulur kakang kawah itu adalah air ketuban. kenapa disebut kakang(kakak), karena dia keluar duluan. adi ari2 adalah ari2 bayi yg keluar setelah air ketuban.

sebenarnya kejadian seperti ini juga terjadi kepada para ulama, tetapi dengan proses yg berbeda.

para ulama total menyerahkan jiwa raganya kepada Allah, kemudian Allah membukakan hijab2 yg ada dlm kehidupan kita ini.

semua hal kejadian ini menjadi kontroversial, ketika beberapa khalayak muslim mempertanyakan dasar hukum Qur’an dan hadits nya.

semua cerita kejadian itu dianggap bid’ah.

untuk itu, saya hanya mengajak untuk duduk sejenak dan berfikir dengan logika yg jernih ttg semua kenyataan yg terjadi diatas.

memang ada rentan campur tangan jin, ketika kita berbicara ttg ilmu2 kanoragan/kebatinan.

ttp kita juga tidak bisa generalisasi/ menyamratakan nilai kejadian.

makanya, tuntunan Rosululloh tentang akhlak dan iman harus benar2 kita jaga, agar tidak salah Tekhnologi ( terjerat oleh tekhnologi bantuan dari jin).

to be continue……………

proporsional

sebuah pemahaman baru tentang alat ukur keinginan atau kepuasan manusia, memunculkan berbagai sarana tekhnologi yang mencerminkan nilai ideal (semu) bagi kehidupan manusia modern(jaman sekarang).

salah satu contoh adalah ketika disuguhkan beberapa sarana praktis berbasis tekhnologi dalam beberapa hal, seperti makanan cepat saji, internet, foto aura, motor jet matic dsb.

itu semua sebenarnya adalah sarana penjembatan keinginan atau kepuasan manusia untuk mendapatkan sesuatu yg diinginkan dengan cepat dan mudah, meskipun didalamnya tidak lepas dari  unsur strategi bisnis.

sehingga menjadi rancu antara keinginan/kepuasan dan kebutuhan.

mari kita bandingkan secara sederhana antara keinginan/kepuasan dengan kebutuhan.

  • kebutuhan : makanan sehat ………keinginan/kepuasan : makanan sehat yang lagi trend ,yg cepat saji dan sesuai dengan selera lidah.
  • kebutuhan : kendaraan……..keinginan/kepuasan : kendaraan yg modelnya baru, bergengsi dan dapat di cicil/kredit.
  • kebutuhan : rumah…………keinginan/kepuasan : rumah menengah keatas yg ada sarana umum lengkap, mudah terjangkau kendaraan umum dan dapat di cicil/kredit.
  • kebutuhan : sosialisasi………..keinginan/kepuasan :  kelompok sosial yg cocok dg kita, yg sekelas dg kita, bisa diajak sesuai keinginan kita.
  • kebutuhan : sekolah………………keinginan/kepuasan : sekolah yg bergengsi, yg bangunannya indah .
  • kebutuhan : pakaian……………..keinginan/kepuasan : pakaian yg lg trend, yg cocok dg selera, yg terlihat wah dan tidak ketinggalan jaman.

dari sini kita bisa  berfikir sejenak tentang kebutuhan didalam hidup kita.

sebenarnya apa saja yang termasuk kebutuhan hidup kita ?

jika kita kembali lagi kepada nilai2 yg ada di dlm alam semesta kita, maka kebutuhan alam semesta (misal: tatasurya) kita adalah :

  • perputaran yg tetap dan kontinyu
  • bentuk dan ukuran planet2 yg pas sesuai dengan kedudukannya terhadap matahari
  • jarak yg pas dan tetap

bumi :

  • grafitasi yg menyeluruh di seluruh permukaan bumi
  • udara yg cukup untuk mensuplai kebutuhan oksigen
  • angin yg cukup untuk meratakan hujan
  • hujan yg berkala untuk menyuburkan tanaman
  • sinar matahari yg proporsional untuk kehidupan di bumi

beberapa contoh di atas bisa menjadi perumpamaan tolok ukur atas kebutuhan kita, manusia sebagai mata rantai tertinggi di bumi.

ibarat alam semesta, hati kita adalah matahari yg selalu menyinari dan memberi hidup kepada seluruh anggotanya.

tubuh kita ibarat anggota komponen bumi ( tanah, air, udara, api) yang harus selalu bersinergi secara dinamis untuk tetap menjaga kelangsungan perputaran kehidupan di bumi.

otak kita ibarat sistem yg selalu menjaga kelangsungan sinergi kehidupan dan menjadi jembatan peradaban, yg berisi aturan main atau tatacara .

uaraian di atas akan menggiring kita pada kesimpulan bahwa :

kebutuhan hidup kita yang ideal adalah kebutuhan yang proporsional, sesuai yg dicontohkan alam semesta ini kepada kita.

nilai2 kebutuhan hidup yg proporsional sudah di sampaikan Allah kepada kita melalui Al Quran, dimana didalamnya terdapat semua aturan main dan dampak positif dan negatifnya.

karena bahasa Allah adalah bahasa universal, maksudnya adalah bahwa bahasa kitab ( Al Quran) mencakup seluruh keterangan dan aturan main untuk seluruh semua ciptaan Allah, maka dari itu dibutuhkan keterangan penjabar atau penjelas untuk bisa mempresentasikan data2 yg diberikan Allah kepada kita, ke dalam bahasa yg lebih kita mengerti.

Rosululloh adalah penterjemah sekaligus contoh konkret nilai2 Al Quran,  yg terjemahan beliau baik yg berupa akhlak(perbuatan) maupun kata2 yg bernilai kebenran2 Al quran, di dokumentasikan melalui hadits2 .

dari sinilah, proses tarik ulur kesimpulan tentang kebutuhan2 hidup kita dimulai.

to be continue……………

Alif Laam Miim

dimensi software kita secara umum :

otak : pikiran dan akal
hati : perasaan dan hati nurani

jika di ibaratkan huruf hija’iyah, diri kita adalah Alif Laam Miim.
alif adalah cerminan sifat2 malaikat ( selalu tunduk dan taat kepada Allah).
laam adalah cerminan sifat2 iblis (yg selalu membangkang perintah Allah)
miim adalah cerminan manusia yang selalu diperebutkan setiap detik oleh alif dan laam.
alif adalah cerminan hati nurani
laam adalah cerminan perasaan(nafsu)
miim adalah cerminan raga dan otak(pikiran dan akal) , yang akan mengikuti sang pemenang , alif atau laam.
untuk membedakan alif (hati nurani) dan laam (perasaan/nafsu) , akan saya coba jabarkan :
ciri2 alif :
- selalu mengajak ke kebenaran dan kebaikan ( keimanan)
- selalu mengingatkan disaat kita akan berbuat dosa
- selalu protes disaat kita berbohong
- selalu mengajak bangun tengah malam untuk sholat
- selalu mengajak membaca Al Qur’an
- selalu mengajak utk ingat kepada Allah

ciri2 laam :
- selalu mengajak berbuat keburukan(perbuatan iblis)
- selalu mengajak untuk ragu2(was2)
- selalu mengajak utk menunda-nunda ibadah
- selalu mengajak malas
- selalu mengajak meremehkan waktu

kemanakah miim akan ikut ?

ilustrasi 1 :
kita ada niat akan bersilaturachim kepada teman.itu bentuk ajakan alif. tapi, ditengah jalan laam akan membuat keragu-raguan : tapi tempatnya jauh ,nanti kalau orangnya tidak ada bgmn, ya kalau diterima dg baik;kalau dicuekin disana bgmn?
bgmn sikap kita?

ilustrasi 2 :
kita akan melakukan sholat tepat waktu berjamaah di masjid,dan itu jelas ajakan alif. tapi ditengah ikhtiar kita untuk itu, laam mencegat ditengah jalan dengan membisikkan :
- nanti aja, toh waktunya masih panjang
- tidak tepat waktu tidak apa2, yg penting kan sholat?!
- jangan ah, nanti dibilang sok alim.
- kalo niatnya gak pas, gak usah ke masjid…percuma..?!
bgmn tindakan kita?

ilustrasi 3 :
ketika seseorang berusaha men dzolimi kita secara mental, alif akan berbisik :
- sabar, ini pasti ujian kesabaran
- doakan orang itu spy diampuni dan diberi hidayah oleh Allah!
- maklumlah, dia mgkn tidak tahu apa yg dia kerjakan
- mungkin dia lg ada masalah, dan dilampiaskan ke kamu, sabar aja yaa..
- ini mgkn teguran bagi kamu supaya lebih baik

tapi, laam akan berbisik :
- dasar orang badung, awas yaa..
- ni orang kok jelek amat ya akhlaknya..?!
- mudah2an di samber geledek loh
- udah bodoh?!,,jahat lagi..huh..dasar
- lihat saja pembalasanku..

bgmn tindakan kita?

ilustrasi 4

Disamping kanan, Aliif berbisik : aku ini muslim, aku harus belajar membaca Al Qur’an dan mendalami maknanya untuk dilaksanakan.

tapi laam berbisik di sisi kiri :

gak usah lah, yg penting kan muslim

tetangga juga pinter baca Quran dan ngerti hadits, tapi tetap aja ngrasani orang.percuma..

bisa baca Quran aja kan sudah cukup lah…

bgmn tindakan kita ?

sebagai miim(manusia), kita sudah diberi password yang sangat banyak oleh Allah untuk memenangkan alif yg ada di dlm diri kita.
tergantung ketegasan, kesabaran dan keseriusan serta ketekunan kita dalam melatih suara2 alif untuk selalu memenangkan peperangan ini.

sebenarnya didalam diri kita ini setiap detik selalu ada peperangan antara alif dan laam, dan rosululloh sudah memberikan salah satu solusi perang itu lewat sholat istiqharah.
sholat istiqharah adalah sholat yg bertujuan untuk minta petunjuk terhadap 2 pilihan.
sedangkan setiap detik kita selalu dihadapkan kepada pilihan2…?
apakah contoh2 ini belum cukup jelas untuk kita agar segera bertindak untuk memenangkan peperangan ini?
bangun tidur dihadapkan beberapa pilihan : mandi dulu, nyantai dulu, bersih2 dulu, atau tidur lagi?
keluar rumah jg dihadapkan bbrp pilihan :
lgsg ke tujuan, atau mampir dulu beli sesuatu, atau mampir kerumah teman dulu, atau …
sholat, puasa , dzikir dan tafakur adalah runtutan ikhtiar yg lebih lengkap untuk berusaha memenangkan peperangan per detik ini…

bagaimana…???? siapakah yang akan anda ikuti?
alif atau laam ?
selamat berperang….

password : segera laksanakan ketika Aliif berbicara…

cerdas pangkat tiga

ada beberapa kesimpulan atau definisi sehubungan dengan kata ” cerdas”.

Aa’ Gym ( Kyai/Ustadz)said : orang cerdas itu orang yang pintar menjaga lisan, perbuatan dan hatinya.

Ary Ginanjar ( penulis buku ESQ) said : kecerdasan terbagi menjadi 3 : IQ, EQ, dan SQ. beliau mempunyai teori ESQ yang menggabungkan ketiga kecerdasan tersebut manjadi satu kecerdasan dunia akherat.

Arifin Ilham ( Kyai/Ustadz) said : muslimyang cerdas yaitu muslim yang selalu mengingat Allah dimanapun dan kapanpun.

Mudito Samsunarto ( Ustadz dan Ketua/pendiri sistem koperasi dunia akherat : USPI Jakarta), said : orang yang cerdas yaitu orang yang selalu berfikir tentang kematian (akherat).

Leonardo da Vinci ( seniman dan  ilmuwan), said : kecerdasan manusia itu terletak di setiap eksistensi dirinya .

Ilmu intelijen said : cerdas adalah ketika seseorang mampu berfikir dan bertindak dengan cepat dan tepat.

kesimpulan sementara dari saya sehubungan dengan pernyataan  diatas tentang kecerdasan adalah :

kecerdasan adalah kemampuan dari setiap eksistensi pada diri manusia untuk melakukan sesuatu atau menciptakan sebuah nilai pada diri manusia.

jadi, cerdas adalah ketika seseorang mampu meng optimalkan sebuah/beberapa eksistensi pada dirinya untuk tujuan tertentu.

sebenarnya kecerdasan itu semua sudah diulas dan dijabarkan didalam Al Qur’an dengan beberapa diantaranya dalam kalimat mutasyabihat.

dipandang dari dimensi yg ada pd diri manusia, ada 3 eksistensi pokok yang menjelaskan keberadaan manusia :  eksistensi raga, otak, dan hati .

jika disimpulkan lagi, otak ada pada dimensi IQ, hati pada SQ, dan raga adalah hasil aplikasi dari IQ dan SQ, yaitu EQ(sikap diri). Jadi, Allah sudah memberi kita potensi kecerdasan yang sangat lengkap untuk kita optimalkan.

semua ketiga eksistensi ini membutuhkan IPO( Input, proses , Output).

Input : masukan ,  Proses : pengolahan  ,  Output : hasil

tanpa ketiga hal ini , raga , otak dan hati akan mati .

Raga

Input : makanan, minuman dan udara

Proses : dicerna, diproses, disalurkan menjadi sistem sirkulasi dalam tubuh .

Output : hasil kondisi tubuh : sehat, sakit2an atau sakit beneran.

Otak

Input : informasi ( audio dan visual)

Proses : diolah ( diingat, dipelajari, dikaji, difahami dan disimpulkan)

Output : kesimpulan yg diformulasikan menjadi suatu ilmu(pengetahuan)

Hati

Input : suasana

Proses : perebutan suasana

Output : beberapa keadaan/suasana ( positif : tenang, sabar, ikhlas,dsb — negatif : iri, dengki, marah, dsb)

untuk mengetahui kualitas hasil akhir dari IPO tiap eksistensi ( raga,otakdan hati), adalah dengan memperhatikan kualitas dari input dan proses.

jika kualitas input bagus dan prosesnya juga bagus, akan menghasilkan output yang bagus juga. begitu juga sebaliknya.

contoh :

Raga : input : makanan yg bergizi dan proporsional,udara yg sehat.

proses : dicerna tubuh( diolah) dan disalurkan kesetiap organ tubuh.

output : badan yg sehat.

Otak : input : informasi

proses : diterima, disaring, dipelajari, dikaji, difahami dan disimpulkan

output : ilmu yang bermanfaat.

Hati : input : dzikir kepada Allah

proses : melatihnya menjadi suatu kebiasaan dlm kehidupan (yg nantinya akan menjadi sebuah karakter).

output : kondisi hati yg selalu sabar, ikhlas , tenang dan tawadu’.

nilai standar kualitas dari IPO bisa terukur, jika ada nilai pembanding atau sebuah teori yang akan menjadi acuan nilai standar.

jika dalam islam, nilai standarnya adalah Al Qur’an.

semuanya itu, jika bisa terwujud dengan hasil optimal positif dan bersinergi, akan menghasilkan kecerdasan yang berlapis-lapis ( cerdas pangkat tiga..)

TEKHNOLOGI ISRA’ MI’RAJ (2)

4. Malam Hari

Setelah memberikan sinyal bahwa ini adalah sebuah perjalanan luar biasa yang dikendalikan Allah terhadap hambaNya, maka Allah menginformasikan kalau perjalanan itu dilakukan pada malam hari.

Kita teringat pada penjelasan kata kunci kedua. Agar Nabi bisa mengikuti kecepatan malaikat dan Buraq, maka badan Nabi diubah menjadi badan cahaya oleh Jibril. Sehingga, ini menjadi ‘klop’ dengan perjalanan malam hari. Ini adalah alasan yang lebih bersifat teknis.

Pada siang hari radiasi sinar matahari demikian kuatnya, sehingga bisa membahayakan badan Rasulullah saw, yang sebenarnya memang bukan badan cahaya. Badan Nabi yang sesungguhnya, tentu saja, adalah materi. Perubahan menjadi badan cahaya itu bersifat sementara saja, sesuai kebutuhan untuk melakukan perjalanan bersama Jibril.

Dengan melakukannya pada malam hari, maka Allah telah menghindarkan Nabi dari interferensi gelombang yang bakal membahayakan badannya. Suasana malam memberikan kondisi yang baik buat perjalanan itu.

Sebagai gambaran sederhana, adalah gelombang suara. Jika malam-malam kita mencoba mendengarkan suara-suara , maka kita bisa mendengarkan dengan baik. Suara deru mobil di kejauhan, misalnya, bisa kita dengarkan dengan baik. Atau suara anjing menggonggong di tengah larut malam. Pendengaran kita menjadi demikian tajam dibandingkan pada siang hari. Kenapa? Karena suara-suara tersebut tidak mengalami interferensi atau gangguan gelombang yang terlalu besar, sehingga terdengar jernih.

Demikian pula jika kita mendengarkan suara radio. Mencari gelombang radio pada malam hari lebih mudah dan hasilnya lebih jernih, karena gelombang radio tersebut juga tidak mengalami gangguan terlalu besar. Begitulah gambaran sederhananya, tentang perjalanan Nabi yang dilakukan pada malam hari. Karena badan Rasul diubah menjadi badan gelombang cahaya, maka perjalanan malam hari menjadi memiliki makna yang sangat penting buat kelancaran perjalanan beliau.

Malam hari juga memiliki arti yang penting dalam melakukan komunikasi dengan Allah. Coba lihat, Allah memerintahkan kita untuk melakukan shalat malam yang bernilai sangat tinggi, yaitu shalat tahajjud. Kenapa demikian? Salah satunya, karena pada malam hari jiwa kita bisa menjadi lebih fokus dan khusyuk.

Dalam ayat berikut ini Allah menginformasikan bahwa shalat pada malam hari itu bacaannya lebih berkesan. Nah, dalam konteks ini, bukankah Rasulullah saw memang bertujuan untuk menghadap kepada Allah SWT? Maka, perjalanan malam hari juga memiliki makna kejernihan komunikasi dengan Allah.

QS. Al Muzammil (73): 6

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.”

5. Dari Masjid ke Masjid

Kata kunci yang kelima adalah ‘minal masjid al haraami ilal masjid al aqsha’, “dari masjidil haram ke masjdil aqsha”. Sebagaimana kata kunci sebelumnya, maka di benak saya timbul pertanyaan : “kenapa ya Allah memperjalankan Nabi Muhammad dari masjid ke masjid? Kok bukan, misalnya, dari gua Hira’ atau rumah Nabi?” Pasti ada makna yang tersembunyi di dalam informasi ini.

Saya lantas teringat bahwa masjid adalah suatu tempat yang banyak menyimpan energi positif. Kenapa begitu? Ya, karena masjid terus menerus digunakan untuk melakukan proses peribadatan yang menghasilkan energi positif.

Padahal sebagaimana kita ketahui, energi positif dari berbagai ibadah kita itu bakal mengimbas ke tempat sekitar. Sebagai contoh, rumah yang sering kita pakai untuk shalat malam, dzikir, puasa dan sebagainya akan terasa ‘dingin’ dan menyejukkan serta membuat ‘kerasan’. Kenapa? Karena, energi do’a kita telah mengimbas ke lingkungan rumah kita.

Maka Anda bisa bayangkan, betapa besarnya energi positif yang tersimpan di dalam masjid. Khususnya masjid al Haram dan masjid al Aqsha. Kedua masjid itu telah berumur ribuan tahun. Dan selama ribuan tahun itu pula digunakan untuk kegiatan-kegiatan peribadatan yang menghasilkan energi positif. Maka, sungguh tempat itu menyimpan energi yang luar biasa besar. Masing-masing bagaikan sebuah tabung energi yang sangat dahsyat.

Lantas, apa kaitannya dengan perjalanan Rasulullah saw? Ini terkait dengan badan Nabi yang telah dirubah menjadi badan cahaya oleh Jibril. Karena badan Rasulullah saw telah berubah menjadi badan energi alias cahaya, maka banyak hal yang harus disesuaikan dengan perubahan itu, termasuk tempat keberangkatan dan kedatangan beliau.

Saya membayangkan sebuah film yang sangat populer beberapa tahun lalu, yaitu Startrek. Film yang mengambil latar perjalanan luar angkasa itu banyak menampilkan teknologi-teknologi masa depan secara scientific. Di antaranya adalah teleportasi. Yaitu cara memindahkan benda secara cepat ke suatu tempat yang berjarak jauh.

Digambarkan, dalam film itu, misalnya tentang pindahnya seseorang dari satu tempat ke tempat lain yang berjarak sangat jauh dengan teknik teleportasi. Katakanlah Mr Spock. Jika ia ingin pindah dari satu tempat ke tempat lain, ia cukup masuk ke dalam sebuah tabung ‘annihilator’ saja.

Ketika berada di dalam tabung itu, Mr Spock disinari dengan sinar tertentu. Tiba-tiba badannya lenyap berubah manjadi cahaya. Cahaya itu lantas dipancarkan ke tabung lain di seberang sana tempat yang dituju. Sesampainya di tempat tujuan, cahaya itu ditangkap dengan peralatan receiver, dan kemudian diubah kembali menjadi badan manusia, Mr Spock.

Di sini kita melihat, bahwa sang pembuat skenario menulis cerita secara scientific. Bahwa memang materi bisa dirubah menjadi energi. Lantas, energi itu dipancarkan antar tabung transmitter dan receiver. Kemudian dirubah kembali menjadi benda kembali.

Dalam kaitannya dengan peristiwa Isra’ ini saya membayangkan teknik teleportasi itu terjadi. Gejala-gejala itu, menurut saya cukup kelihatan dan memenuhi syarat terjadinya proses tersebut. Yang pertama: sangat boleh jadi badan Nabi diubah menjadi cahaya oleh malaikat Jibril. Sebab jika tidak, maka perjalanan mereka akan menemui kendala sangat besar akibat tidak seimbangnya kualitas badan Nabi (materi) dengan badan malaikat dan Buraq (cahaya). Yang kedua, masjid al Haram dan masjid al Aqsha dijadikan sebagai terminal pemberangkatan dan kedatangan. Ini mirip dengan tabung trasmitter dan receiver, yang digunakan dalam proses teleportasi. Contoh konkretnya adalah yang terjadi pada Mr Spock, dalam film sains fiksi Startrek.

Karena masjid mengandung energi positif yang sangat besar maka perubahan badan Nabi Muhammad dari materi menjadi energi cahaya menjadi jauh lebih mudah. Apalagi ‘dioperatori’ oleh malaikat Jibril yang memang makhluk cahaya. Maka semuanya berjalan lancar sesuai kehendak Allah. Dialah yang berkehendak, malaikat Jibril yang melaksanakannya.

Maka, setelah badan Nabi berubah menjadi badan cahaya, malaikat Jibril langsung memandu perjalanan itu dari masjid al Haram menuju masjid al Aqsha. Dan bukan hanya sampai di Palestina, malaikat Jibril pun tetap memandu Rasulullah saw sampai ke langit ke tujuh. Lebih detil akan saya uraikan di bagian lain ketika membahas mi’raj

6. Diberkahi Sekelilingnya

Perjalanan malam itu memang sebuah perjalanan yang tidak lazim. Karena itu, Allah mempersiapkan berbagai fasilitas untuk menjaga kelancarannya. Kata kunci ke enam ini baaraknaa haulahu menggambarkan betapa Allah terus mengendalikan proses perjalanan tersebut. Allah mengatakan bahwa Dia telah memberkahi sekelilingnya, supaya tidak muncul kendala yang berarti.

Sejak awal Allah telah mengutus malaikat Jibril untuk mendampingi Hasulullah saw, mulai dari persiapan jiwa raganya, sampai memandu apa yang harus dilakukan oleh Nabi. Kemudian, perjalanannya pun dilakukan dari masjid ke masjid. Dan, selama perjalanan tersebut Allah masih memberikan barokahNya, supaya tidak terjadi interferensi atau gangguan-gangguan gelombang yang membahayakan ‘badan energi’ Nabi.

Sebab, jika tidak dilindungi secara khusus, badan Nabi bisa mengalami proses balik menjadi ‘badan material’ lagi sebelum waktunya. Misalnya ketika melewati medan inti Bumi dengan besar tertentu. Sebagaimana, saat gelombang Gama melewati medan inti atom, bisa berubah kembali menjadi sepasang partikel elektron dan positron.

Nah, disinilah pentingnya Allah menjaga lingkungan sekitar perjalanan itu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab jika badan Nabi tiba-tiba berubah menjadi ‘badan materi’ lagi saat melakukan perjalanan berkecepatan tinggi itu, maka badannya bisa terburai menjadi partikel-partikel kecil sub atomik, tidak berbentuk lagi. Hal ini telah saya jelaskan di depan, bahwa energi ikat yang menyusun atom, molekul dan badan Nabi itu bisa kalah besar dibandingkan energi yang muncul akibat kecepatannya.

7. Diperlihatkan Tanda-TandaNya

Apakah tujuan dari perjalanan itu? Salah satunya, Allah ingin menunjukkan tanda-tanda kebesaranNya di alam semesta kepada Rasulullah saw.

Sebagian ulama mengemukakan pendapat bahwa perjalanan tersebut bermaksud untuk memantapkan hati Rasulullah saw setelah beliau mengalami tekanan bertubi-tubi. dalam perjuangan menyebar luaskan agama Islam.

Tahun-tahun menjelang keberangkatan Isra’ Mi’raj itu Rasulullah mengalami boikot ekonomi dari orang-orang kafir Ouraisy. Disusul ditinggal mati oleh istri Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib yang sangat besar peranannya dalam membantu perjuangan beliau. Maka, Nabi sangat prihatin dan tertekan. Sehingga, Allah memerintahkan Nabi agar melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj tersebut, untuk memberikan keyakinan dan motivasi atas perjuangannya kembali.

Hal-hal semacam ini memang juga terjadi pada Rasul-Rasul sebelumnya. Perjuangan yang demikian berat sempat membuat para Rasul itu down. Hal ini, misalnya, juga terjadi pada Nabi Musa, sehingga beliau ‘bertapa’ di gunung Sinai. Bahkan pada saat itu Nabi Musa digambarkan ingin bertemu dan melihat Allah secara langsung untuk menguatkan keyakinannya. Meskipun beliau tidak bisa melihat Allah, tetapi akhirnya Nabi Musa yakin bahwa Allah itu Maha Perkasa dan Maha Dahsyat, setelah beliau pingsan karenanya.

QS. Al A’raaf (7): 143

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihatKu”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama tama beriman”.

Hal yang sama juga terjadi pada Nabi Yunus, sehingga beliau meninggalkan kaumnya. Akan tetapi Allah mengembalikannya lagi setelah Yunus ditelan oleh ikan. Dan di dalam perut ikan itulah beliau ‘bertemu’ dengan Tuhannya, sehingga kemudian kembali kepada kaumnya.

QS. Al Anbiya’: 87

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.

Nabi Ibrahim juga mengalami hal yang serupa. Untuk meyakinkan dirinya, Ibrahim suatu ketika memohon kepada Allah untuk menunjukkan cara Dia menghidupkan kembali makhluk yang telah mati. Maka Allah memerintah kan untuk memotong-motong burung, dipisahkan di sejumlah bukit. Lantas, potongan-potongan badan burung itu berkumpul kembali, setelah dipanggilnya. Maka, Ibrahim pun menjadi semakin yakin terhadap kekuasaan Allah.

QS. Al Badarah (2): 260

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan, orang mati” , Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” ‘Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) “.Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Begitu juga kejadian yang menimpa Nabi Ayyub dengan penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Atau Nabi Sulaiman, Nabi Daud, dan Nabi Nabi yang lain. Selalu ada pasang surut dan proses untuk mencapai tingkatan yang semakin tinggi dalam meyakini kebesaran Allah, Sang Perkasa.

QS. Shaad (38): 34

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (Yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat “

QS. Shaad (38): 41

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”.

Maka, dalam persepsi ini, perjalanan Isra’ Mi’raj juga memiliki tujuan yang kurang lebih sama. Allah sengaja ‘memamerkan’ kekuasaanNya kepada Nabi Muhammad, agar beliau tidak berkecil hati dalam menghadapi tekanan yang datang bertubi-tubi.

Dalam perjalanan itu Rasulullah saw lantas menyaksikan pemandangan-pemandangan yang tidak pernah beliau saksikan. Terutama ketika melintasi dimensi-dimensi langit yang lebih tinggi, pada saat Mi’raj ke langit ke tujuh.

Namun pada saat melintasi Mekkah Palestina pun beliau sesungguhnya sudah sangat takjub dan mengingat seluruh kejadian yang beliau alami. Bahkan bisa bercerita secara akurat kepada orang-orang yang meragukan perjalanan beliau. Termasuk beliau bisa menceritakan jumlah pintu dan jendela masjid al Aqsha.

Kenapa beliau bisa menceritakan kejadian kejadian tersebut dengan akurat? Rupanya, setelah perjalanan Isra’ Mi’raj itu Nabi memiliki peningkatan kemampuan melihat dimensi-dimensi lebih tinggi di alam semesta ini. Selama perjalanan tersebut Allah telah membuka hati beliau, sehingga menjadi ‘kasyaf’ alias terbuka. Ilmu dan hikmah yang beliau kuasai bukan lagi hanya meliputi langit pertama, melainkan sampai langit yang ke tujuh.

QS. An Naim (53): 11

“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”

Selain tujuan memotivasi kembali semangat perjuangan beliau, Allah juga sengaja memamerkan kekuasaanNya lewat tanda-tanda di alam semesta yang beliau lewati.

Pendekatan makhluk kepada penciptanya memang terjadi lewat tanda-tanda kebesaranNya. Tidak terjadi secara langsung. Kenapa demikian? Sebab ada suatu gap yang sangat jauh antara kualitas makhluk dengan kualitas pencipta. Makhluk demikian lemahnya, sedang pencipta demikian dahsyatnya. Maka, sepintar dan sehebat apa pun seorang manusia tidak akan pernah bisa memahami eksistensi Allah 100 persen.

Yang terjadi adalah manusia hanya bisa mempersepsi eksistensi Allah dalam pemahaman yang sangat sedikit. Barangkali, hanya sepersekian miliar persen dari eksistensiNya yang sesungguhnya. Atau bahkan lebih kecil lagi. Hal ini dikemukakan oleh Allah dalam ayat berikut ini.

QS. Luqman (31): 27

Dan seandainya pohon-pohon di Bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ayat di atas menggambarkan betapa dahsyat Kekuasaan dan Ilmu Allah. Manusia dan segala yang ada di alam semesta ini begitu kecilnya di hadapanNya. Kita tidak pernah bisa mengukur Ilmu dan EksistensiNya. Karena Dia adalah Dzat yang Tiada Terbatas. Seberapa hebat pun yang telah kita pahami dari ‘tanda tanda’ kekuasaanNya itu, ternyata baru sebagian kecil saja dari ilmu-ilmu Allah yang digelar.

Sebagai contoh, ilmu Allah yang terdapat pada tubuh manusia. ilmu manusia ini dulunya di pelajari sebagai-bagian dari Biologi. Disamping ilmu tumbuhan dan ilmu hewan. Akan tetapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka para ilmuwan memandang perlu untuk memisahkan ilmu tentang manusia, untuk dipelajari secara lebih khusus.

Kenapa demikian? Karena ternyata semakin lama semakin disadari bahwa ilmu tentang manusia semakin rumit dan mendalam. Sehingga, muncullah berbagai cabang ilmu tentang manusia. Ada yang belajar ilmu jiwa, ada yang belajar ilmu fisik. Yang ilmu jiwa ada yang mengarah kepada penyakit-penyakit jiwa yang kemudian dipelajari dalam ilmu kedokteran jiwa. Tetapi ada juga yang mengarah kepada cara cara mengoptimalkan kemampuan kejiwaan manusia, yang kemudian dipelajari sebagai ilmu psikologi. Kedua ilmu ini terus berkembang sampai sekarang dan nanti, sesuai perkembangan zaman.

Sedangkan yang mempelajari fisik manusia juga berkembang semakin rumit. Katakanlah yang ada dalam wilayah ilmu kedokteran. Tadinya ilmu kedokteran dipelajari secara umum, sehingga dokternya disebut sebagai dokter umum. Namun ternyata, banyak hal yang belum dikuasai oleh seorang dokter umum, sehingga diperlukan dokter spesialis. Diantaranya, ada yang mengkhususkan diri pada ilmu saraf saja. Atau ilmu penyakit dalam saja. Atau ilmu mata saja. Ada juga yang soal kandungan saja. Atau gigi saja. Dan seterusnya. Hal ini membuktikan betapa mendalamnya ilmu Allah.

Bicara soal gigi saja, seorang dokter spesialis bisa memerlukan waktu bertahun-tahun. Itu pun masih terus berkembang. Dan bukan berhenti sampai di situ. Sampai sekarang pun, para ahli ilmu kedokteran itu masih merasa perlu untuk lebih mengkhususkan ilmunya. Misalnya, mereka yang tadinya ahli penyakit dalam (meliputi jantung, liver, ginjal, paru, dan lain-lain) kini banyak yang merasa perlu untuk mengambil spesialis lagi yang lebih khusus. Misalnya sekarang ada dokter spesialis penyakit jantung saja. Atau ada yang mengambil paru-paru saja. Liver saja. Dan seterusnya.

Demikian pula, yang ahli penyakit saraf. Mereka mulai mengkhususkan diri pada saraf mata, atau saraf jantung, saraf otak, dan lain sebagainya. Semakin mendalam kita mempelajari, maka semakin tahu kita bahwa begitu banyak rahasia yang masih terkandung di dalam diri manusia. Kita seperti masuk ke dalam sebuah sumur yang sangat dalam, dan tidak ketemu dasarnya. Sangat misterius!

Jadi begitulah. llmu Allah demikian luas dan mendalam. Meskipun seluruh umat manusia dikerahkan untuk menulis ilmu Allah yang ada di tubuh manusia saja, niscaya tidak habis ilmu Allah dituliskan. Bahkan meskipun menggunakan air lautan sebagai tinta, dan ranting ranting pohon sebagai pena. Dan kemudian ditambah dengan tujuh lautan sekalipun.

Nah, semua ilmu yang ada di dalam tubuh manusia maupun yang tersebar di seluruh penjuru angkasa raya itulah tanda-tanda kekuasaan Allah. Orang-orang yang mempelajarinya akan memperoleh kesimpulan, betapa hebatnya Allah, Sang Maha Pencipta. Maka, jika kita ingin dekat denganNya, kita mesti memahami tanda-tanda itu sebagai sebuah proses untuk lebih mengenalNya. Karena ternyata banyak di antara kita yang tidak benar-benar mengenal Allah, sebagaimana Dia ’sindirkan’ berikut ini.

QS. Al Hajj (22): 74

“Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

Dia telah menebarkan miliaran atau bahkan triliunan ‘tanda tanda’ di alam semesta untuk kita pelajari. Namun, hanya orang-orang yang berilmu sajalah yang bisa mengambil pelajaran dari tanda-tanda Kebesaran Allah itu. Hal ini dikemukakan Allah dalam berbagai firmanNya. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut ini.

QS. Al Ankabut (29): 43

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”

QS. Fathir (35): 28

Dan demikan (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.”

Dengan kata lain, Allah memang memerintahkan umat Islam untuk menjadi orang orang pintar yang bisa memahami alam sekitamya, dengan maksud agar akhimya kita lebih mengenal Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa.

Nah, itulah yang salah satu tujuan Allah memperjalan kan Rasulullah saw lewat peristiwa Isra’ Mi’raj. Meskipun, Rasulullah saw seorang yang ummi (buta huruf), bukan berarti beliau tidak memiliki ilmu tentang alam sekitarnya. Bahkan beliau memiliki ilmu yang sangat tinggi, yang terbentang dari langit pertama sampai langit ke tujuh.

Ilmu-ilmu tersebut diajarkan Allah kepada Rasulullah saw tidak lewat tulisan melainkan lewat pengalaman empiris. Langsung masuk ke dalam hati beliau sebagai sebuah kefahaman. Bukan sekedar ingatan atau memori dalam otak.

Proses ini juga yang diberikan Allah kepada Nabi Adam, sehingga malaikat takluk mengakui kehebatan Adam. Dan kemudian bersujud kepadanya. Rasulullah saw memiliki kemampuan hebat itu. Allah memiliki seribu satu cara untuk mengajari hamba-hambaNya, tentang segala yang tidak diketahuinya, sebagaimana Dia firmankan dalam wahyu pertama.

QS. Al ‘Allaq (96): 5

“Yang mengajari manusia segala yang tidak diketahuinya”

Dan, ini kemudian terbukti ketika beberapa tahun kemudian, Rasulullah saw menerima wahyu QS. Ali lmran : 190-191. Rasulullah saw menangis semalaman menerima wahyu tersebut. Kenapa menangis? Karena Rasulullah saw sangat paham tentang isi wahyu itu. Bahkan beliau telah mengalaminya dalam perjalanan Isra’ Mi’rajnya. Apakah isinya? Tentang penciptaan langit dan Bumi, dan berbagai tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

QS. Ali Imran: 190-191

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan Bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan Bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.”

Di sini kita melihat, betapa pemahaman Rasulullah saw terhadap ilmu ‘Langit dan Bumi’ demikian mendalam. Tidak mungkin beliau bisa menangis seperti itu, kalau beliau tidak memahami. Padahal kita tahu, beliau bukanlah seorang ahli astronomi. Dan pasti beliau juga tidak pernah membaca atau mempelajari tentang astronomi, karena ilmu tersebut belum berkembang seperti di jaman modern ini, yang telah dibantu dengan berbagai jenis teleskop canggih.

Semua kefahaman Rasulullah saw itu telah beliau dapatkan ketika mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj. Bukan sekedar membaca, melainkan langsung mengalaminya. Dari langit pertama sampai langit yang ke tujuh. Batas pengetahuan Rasulullah saw adalah Sidratul Muntaha, dimana beliau tidak mengetahui lagi apa-apa yang ada di balik Sidratul Muntaha.

Maka ketika menerima wahyu itu, Rasulullah saw seperti bernostalgia atas perjalanan lsra’ Mi’rajnya. Kalimat-kalimat yang termaktub dalam wahyu itu mengingatkan kembali penglihatan-penglihatan beliau saat melintasi dimensi-dimensi langit pertama sampai ke tujuh. Lebih jauh akan saya jelaskan ketika membahas tentang Mi’raj Nabi.

Dan selain mengingatkan kembali pada perjalanan Isra’ Mi’raj, Allah juga memberikan penegasan dalam firman itu, bahwa seluruh ciptaan Allah di alam semesta ini adalah tanda-tanda Kebesaran dan Keagungan Allah. Dan dengan tanda-tanda itu seorang mukmin bisa melakukan ‘dzikir sekaligus berpikir’ sehingga menghasilkan kedekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

8. Maha Mendengar dan Maha Melihat

Dan kata kunci yang terakhir adalah : “sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat’ (innahu huwas samii’ul bashiir). Ini adalah kalimat penegas terhadap informasi yang diceritakan dalam kalimat-kalimat sebelumnya.

Dengan adanya kalimat ini, seakan-akan Allah ingin memberikan jaminan kepada kita bahwa apa yang telah Dia ceritakan dalam ayat ini adalah benar. Kenapa? Karena berita ini datang dari Allah, Tuhan yang Maha Mendengar Lagi Maha Melihat. Maka tak perlu ada keraguan tentang kisah Isra’.

Selain itu, kalimat Maha Mendengar dan Maha Melihat juga bisa dimaknai bahwa Allah telah memberikan sebagian sifat sama’ dan bashar itu kepada Rasulullah saw. Dengan kata lain, selama perjalanan tersebut Rasulullah saw benar-benar dalam kesadaran penuh sehingga bisa ‘mendengar’ dan ‘melihat’ berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah di rute yang beliau lewati. dan memang ini sesuai dengan tujuan perjalanan itu bahwa Allah ingin memperlihatkan tanda-tanda kebesaranNya agar Rasulullah saw semakin yakin kepadaNya.

Demikianlah, seluruh perjalanan Rasulullah saw dari Mekkah ke Palestina telah diceritakan Allah dalam ayat pertama surat Isra’ secara komprehensif. Disana tergambar seluruh situasi dan kondisi yang berlangsung selama perjalanan itu :

1. Bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Suci dan Maha Perkasa, tiada bandingnya di jagad semesta.

2. Bahwa Rasulullah saw adalah seorang manusia yang telah mencapai tingkatan ‘hamba’, dan sengaja diperjalankan olehNya untuk mencapai tingkat keyakinan yang lebih tinggi

3. Bahwa perjalanan itu adalah sebuah perjalanan misterius yang sangat dahsyat yang mengandung pelajaran sains dan teknologi mutakhir

4. Dan bahwa semua itu bermakna sebagai sebuah proses untuk mengenal dan mendekatkan diri kita kepada Allah, Sang Penguasa Alam semesta. Bukan hanya bagi Nabi Muhammad saw, melainkan juga bagi kita, umat Islam sampai akhir zaman.

Subhanallah…….

TEKHNOLOGI ISRA’ MI’RAJ (1)

Suatu ketika, malam 27 Rajab, Rasulullah Muhammad saw sedang bertafakur di masjidil Haram. Saat itu Rasulullah saw sedang menjalani 11 tahun masa kenabiannya.

Kondisi perjuangan Islam sedang dalam masa-masa paling sulit. Umat Islam diboikot oleh kaum Ouraisy. Perdagangan dan berbagai interaksi sosial ekonomi umat Islam diisolasi dan sangat dibatasi. Dalam kondisi seperti itu, paman dan istri Rasulullah saw sebagai orang-orang yang sangat gigih mendukung perjuangan Nabi pun ‘dipanggil’, diwafatkan oleh Allah SWT, meninggalkan Rasulullah. Nabi benar benar dalam kondisi jiwa yang sangat tertekan.

Di saat-saat seperti itu Rasulullah saw lantas meningkatkan dzikir dan tafakurnya kepada Allah, Sang Maha Perkasa dan Maha Menyayangi. Beliau banyak melakukan perenungan di masjidil Haram. Seperti yang sering beliau lakukan di Gua Hira’ saat-saat sebelum masa kenabiannya, menjelang memperoleh wahyu pertama.

Maka, ketika malam semakin larut mendekati tengah malam, suasana masjidil Haram semakin sepi dan lengang. Rasulullah saw mencapai puncak kekhusyukannya.

Tiba-tiba muncullah malaikat Jibril dari ufuk yang tinggi. Badan Jibril memenuhi horizon penglihatan Nabi (QS. 53 : 5-11). Jibril terus mendekati Nabi sampai jarak sekitar satu busur anak panah atau lebih dekat lagi. (Begitulah cara Jibril memperlihatkan diri aslinya kepada Nabi dalam menyampaikan wahyu dari Allah).

Setelah dekat, Jibril menyampaikan perintah Allah, bahwa ia disuruh untuk mengajak Rasulullah melakukan perjalanan luar biasa, yang kemudian kita kenal sebagai Isra’Mi’raj.

Rasulullah saw, lantas diajak oleh Jibril menuju sumur Zam-zam, yang terletak tidak jauh dari situ, untuk mensucikan dirinya, sebelum berangkat. Dalam berbagai kisah digambarkan ‘hati’ Rasulullah saw disucikan oleh malaikat Jibril menggunakan air Zam-zam, sebagai persiapan untuk melakukan perjalanan ‘menuju’ Allah itu.

Setelah itu, melesatlah mereka berdua dengan menggunakan Buraq (makhluk cahaya) menuju ke Palestina yang berjarak sekitar 1500 km dari Mekkah. Mereka menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk ukuran orang pada waktu itu hanya dalam waktu setengah malam.

Mestinya, menggunakan unta atau kuda memerlukan waktu berbulan-bulan. Apalagi, selain ke Palestina Rasulullah saw juga melakukan perjalanan ke langit ke tujuh. Dan ternyata, sebelum subuh, Rasulullah saw sudah balik berada di Mekkah lagi.

Tentu saja, berita ini sangat menggemparkan masyarakat pada waktu itu. Bukan hanya orang-orang kafir yang mencemoohkan Nabi, tapi sebagian umat Islam pun sempat dihinggapi oleh keraguan.

Ada 2 hal yang kontradiktif. Yang pertama, Rasulullah saw bercerita bahwa beliau telah melakukan perjalanan sejauh itu hanya dalam waktu setengah malam. Hal ini tentu saja tidak bisa diterima oleh mereka yang mendengarnya. Tapi, yang kedua, Muhammad dikenal sebagai orang yang tidak pernah berbohong sejak kecil, sehingga dijuluki Al Amin. Mestinya, kabar yang ia sampaikan itu juga bukan berita bohong.

Maka, berita itu pun menggemparkan masyarakat Mekkah. Termasuk para sahabat. Mereka terpecah dalam 3 golongan besar. Yang pertama, adalah mereka yang mencemoohkan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kafir. Untuk menghindari kontradiksi diatas bahwa Muhammad tidak pernah berbohong mereka pun mengembuskan berita bahwa Muhammad telah gila. Dan mereka pun menjadikan berita itu sebagai bahan cemoohan dan ejekan. Orang-orang kafir memperoleh ‘amunisi’ baru untuk memojokkan perjuangan Rasulullah.

Kelompok kedua, adalah mereka yang ragu-ragu. Dalam kelompok ini ada orang-orang kafir dan ada pula orang-orang Islam. Mereka terbawa oleh suasana kontradiksi di atas. Mau percaya, kok berita itu tidak masuk akal. Tapi, mau nggak percaya, Muhammad itu kan tidak pernah berbohong. Maka, mereka pun ragu-ragu.

Kelompok yang ketiga, adalah mereka yang begitu yakin akan keRasulan Muhammad. Di antaranya yang menonjol adalah Abu Bakar Ash shiddid. Mereka meyakini sepenuhnya, bahwa yang diucapkan Rasulullah saw pasti benar adanya. Perjalanan yang kontroversial itu pun bagi mereka justru meningkatkan keyakinannya bahwa beliau benar-benar utusan Allah.

Nah, ketiga golongan tersebut ternyata bukan hanya ada pada zaman itu, melainkan terbawa sepanjang sejarah perkembangan Islam. Sampai kini pun, ada orang-orang yang tidak percaya, yang ragu-ragu dan yang langsung beriman, meskipun tidak tahu penjelasannya.

Untuk itu, dalam diskusi kali ini saya ingin ikut ‘urun rembug’ dalam wacana yang sudah berusia hampir 1.500 tahun tersebut. Saya ingin mengatakan bahwa peristiwa yang kontroversial tersebut sebenarnya bisa diurai dengan menggunakan logika-logika modern, tanpa harus mengorbankan keimanan kita. Bahkan akan semakin menegaskan betapa Maha Perkasa Allah, Sang Penguasa Alam semesta ini.

Pembahasan Isra’ Mi’raj dalam diskusi kali ini saya bagi dalam dua etape. Etape pertama adalah perjalanan dari Mekkah ke Palestina, yang dikenal sebagai ISRA’. Sedangkan etape kedua, dari Palestina ke langit ketujuh, yang kita sebut sebagai MI’RAJ. Kedua pembahasan itu saya uraikan secara berurutan.

DALAM TINJAUAN SAINS MODERN

Peristiwa Isra’ Mi’raj sarat dengan pemahaman ilmu pengetahuan mutakhir. Bagi saya, ini juga menunjukkan bahwa ajaran Islam mengandung pelajaran-pelajaran yang sangat canggih yang berlaku sampai akhir zaman. Ditafsir secara sederhana seperti pada zaman Rasulullah saw bisa, ditafsir dengan ilmu pengetahuan mutakhir pun semakin mempesona.

Untuk memahami hikmah yang terkandung di dalam perjalanan tersebut marilah kita kutip firman Allah berikut ini.

QS. lsraa’ (17) : 1

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.

Ayat di atas menceritakan perjalanan malam itu dengan sangat komprehensif. Sehingga dengan berpatokan pada ayat tersebut kita bisa memperoleh pemahaman yang sangat memadai tentang kejadian tersebut.

Setidak-tidaknya, ada 8 kata kunci di dalam ayat tersebut yang bisa menuntun pemahaman kita tentang perjalanan malam Rasulullah saw, yaitu:

1. Maha Suci Allah yang, (Subhanalladzii)

2. Memperjalankan (asraa)

3. HambaNya (abdihi)

4. Malam Hari (Laila)

5. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha

(Minal masjid al haraam i1al masjid al Aqsha)

6. Kami berkati sekelilingnya (baaraknaa haulahu)

7. Tanda-Tanda kebesaran Allah (linuriyahu min aayaatina)

8. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat

(innahu huwassamii’ul ‘bashfir)

1. Maha Suci Allah

Cerita tentang Isra’ di dalam firman Allah tersebut di atas dimulai dengan kata Subhaanalladzii – Maha Suci Allah yang. Kata pembuka ini, menurut saya memiliki makna yang sangat mendalam untuk memulai pemahaman kita.

Kalau kita mau kritis, kita pasti bertanya-tanya: “Kenapa ya cerita tentang Isra’ ini kok dimulai dengan kata Subhanallah? Kok bukan dengan kata-kata yang lain?”

Saya menangkap suatu kesan bahwa Allah ingin memberikan penegasan kepada kita bahwa perjalanan Rasulullah saw ini bukanlah perjalanan biasa. Melainkan sebuah perjalanan luar biasa. Kenapa saya memiliki kesimpulan tersebut?

Di dalam Islam, kata Subhanallah diajarkan untuk diucapkan ketika kita menemui suatu kejadian yang luar biasa atau menakjubkan. Ketika melihat ciptaan Allah yang Maha Dahsyat di alam semesta, misalnya, kita dianjurkan untuk mengucapkan Subhanallah. Kehebatan proses-proses pembakaran di matahari, kecepatan putar planet Bumi yang luar biasa, keindahan pantulan cahaya bulan purnama yang begitu memukau, dan lain sebagainya, bisa menyulut rasa terpesona kita. Dan kemudian terlontar ucapan Subhanallah.

Maka, ketika Allah memulai ayat Isra’ tersebut dengan kata Subhanallah, pikiran saya langsung menangkap nuansa bahwa Allah akan bercerita sesuatu yang luar biasa di kalimat-kalimat berikutnya. Selain itu, penegasan-penegasan di bagian akhir ayat ini juga menggambarkan betapa semua itu memang menunjukkan Maha Perkasa dan Maha Dahsyatnya Allah, Sang Penguasa Alam semesta.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih baik, di bawah ini saya cuplikkan beberapa ayat yang mengajarkan kepada kita untuk mengucapkan Subhaanallaah.

QS. Ali Imran : 190-191

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan Bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan Bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.

QS. Al A’raaf (7) : 54

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan Bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk, kepada perintah Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Dan banyak lagi ayat-ayat yang mengajak kita untuk mengagumi Kebesaran dan Kemaha-Sucian Allah. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut ini. QS. 23: 14, QS. 25: 1, QS 25: 10, QS. 25: 61, QS. 43: 85, QS. 59: 23, QS. 67: 1

2. Yang Telah Memperjalankan

Kata kunci yang kedua adalah kata asraa ‘memperjalankan’ ‘ Kata ini memberikan makna yang penting buat kita dalam memahami peristiwa tersebut. Bahwa, temyata perjalanan luar biasa itu memang bukan kehendak Rasulullah saw sendiri, melainkan kehendak Allah.

Kenapa berkesimpulan demikian? Ya, karena Allah menginformasikan kepada kita dalam ayat tersebut bahwa semua itu terjadi atas kehendakNya. Allah-lah yang telah memperjalankan Muhammad saw.

Dengan kata lain, kita juga memperoleh ‘bocoran’ bahwa Rasulullah saw tidak akan bisa melakukan perjalanan tersebut atas kehendaknya sendiri. Sebagaimana saya uraikan pada bagian-bagian berikutnya nanti, perjalanan ini memang terlalu dahsyat bagi seorang manusia. Jangankan manusia biasa, Rasulullah saw pun tidak bisa jika tidak diperjalankan oleh Allah.

Karena itu Allah lantas mengutus malaikat Jibril untuk membawa Nabi melanglang ‘ruang’ dan ‘waktu’ di dalam alam semesta ciptaan Allah. Jibril sengaja dipilih oleh Allah untuk mendampingi perjalanan beliau mengarungi semesta, karena Jibril adalah makhluk dari langit ke tujuh yang berbadan cahaya. Dengan badan cahayanya itu, Jibril bisa membawa Rasulullah saw melintasi dimensi-dimensi yang tak kasat mata.

Selain itu perjalanan mereka juga disertai oleh Buraq. la adalah makhluk berbadan cahaya yang berasal dari alam malakut yang dijadikan tunggangan selama perjalanan tersebut. Buraq berasal dari kata Barqun yang berarti kilat. Maka, ketika menunggang Buraq itu mereka bertiga melesat dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 km per detik.

Di sinilah mulai muncul pertanyaan dan kontradiksi. Dalam ilmu Fisika Modern diketahui bahwa kecepatan tertinggi di alam semesta adalah cahaya. Tidak ada kecepatan lain yang lebih tinggi darinya.

Kecepatan yang setinggi itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang benda. Hanya sesuatu yang sangat ringan saja yang bisa memiliki kecepatan demikian tinggi itu. Bahkan saking ringannya, maka sesuatu itu harus tidak memiliki massa atau bobot sama sekali. Jika sesuatu masih memiliki bobot meskipun hampir nol ia tidak bisa mengalami kecepatan cahaya. Yang bisa melakukan kecepatan itu cuma photon saja, yaitu kuantum-kuantum penyusun cahaya. Bahkan elektron yang bobotnya dikatakan hampir nol pun tidak bisa memiliki kecepatan setinggi itu.

Di sinilah mulai muncul problem, dalam menjelaskan peristiwa Isra’. Malaikat Jibril dan Buraq adalah makhluk cahaya, yang badannya tersusun dari photon-photon, yang sangat ringan. Karena itu tidak mengalami kendala untuk bergerak dengan kecepatan cahaya yang demikian tinggi. Akan tetapi Rasulullah saw adalah manusia biasa. Badannya tersusun dari atom-atom kimiawi, yang memiliki bobot.

Kalau kita mencoba memahami zat-zat penyusun tubuh manusia, maka kita akan mendapati bahwa badan kita tersusun dari organ-organ tubuh, seperti otak, jantung, paru-paru, liver, daging, tulang dan lain sebagainya.

Berbagai organ tubuh itu juga tersusun dari bagian yang lebih kecil yang disebut sel. Ada sel-sel jantung, ada sel-sel otak, sel darah, sel tulang, sel saraf, daging, liver dan lain sebagainya.

Jika dilihat lagi penyusunnya, maka berbagai macam sel itu tersusun dari molekul-molekul. Baik yang sederhana maupun molekul yang sangat kompleks. Mulai dari H2O sampai pada rantai molekul asam amino atau protein-protein kompleks lainnya.

Dan kalau kita cermati lebih mendetil lagi, maka molekul molekul itu juga tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut atom. Ada miliaran atom yang menyusun tubuh manusia. Dan seterusnya, atom ternyata juga tersusun dari partikel-partikel sub atomik seperti proton, neutron, elektron dan lain sebagainya.

Seluruh bagian-bagian penyusun itu bergandengan satu sama lain dengan menggunakan energi ikat, supaya tidak tercerai-berai. Partikel-partikel sub atomik bergandengan membentuk atom. Atom atom bergandengan membentuk molekul. Demikian pula berbagai jenis molekul bergandengan membentuk sel-sel tubuh dan seluruh organ. Dan kemudian organ-organ itu berkolaborasi membentuk badan kita.

Seorang manusia lantas memiliki bobot yang cukup berat, berpuluh-puluh kilo. Maka, ‘benda’ yang seberat itu tentu tidak bisa dipercepat dengan kecepatan tinggi, sebagaimana photon-photon cahaya yang tidak punya bobot.

Selain berat, sistem tubuh kita juga tidak bisa dipercepat terlalu tinggi. Jangankan setinggi kecepatan cahaya, dengan percepatan beberapa kali gravitasi Bumi (G) saja sudah akan mengalami kendala serius. Dan bisa meninggal Dunia.

Bayangkan seorang pilot pesawat tempur. Ketika ia melakukan manuver di angkasa, ia sebenarnya sedang melakukan gerakan-gerakan yang berbahaya bagi tubuhnya. Terutama otak dan jantungnya.

Misalkan, ketika ia melakukan gerakan vertikal naik ke langit atau manuver ‘jatuh’ ke Bumi. Saat itu, badannya bakal mengalami tekanan alias bebal yang sangat besar, bergantung pada besarnya percepatan yang dia lakukan.

Jika dia bermanuver ke langit dengan percepatan 2 kali gravitasi Bumi (2G), maka badannya akan mengalami tekanan dua kali lipat dari biasanya. Kalau bobot badannya pada kondisi normal 80 kg, misalnya, maka pada saat melakukan manuver itu bobotnya akan menjadi 160 kg.

Demikian pula anggota-anggota badannya juga akan mengalami perlipatan bobot. Jika kepalanya berbobot 10 kg, maka pada saat bermanuver 2G itu kepalanya akan memiliki bobot 20 kg. Demikian pula tangannya, kakinya, dan seluruh organ tubuhnya menjadi 2 kali lipat bobot semula.

Maka, anda bisa bayangkan betapa otot-otot tubuhnya akan terbeban dengan beban yang jauh lebih berat dari biasanya. Itu kalau percepatannya menjadi dua kali lipatnya. Padahal, banyak pilot pesawat tempur melakukan manuver sampai 5G, 5 kali gravitasi Bumi. Anda bisa bayangkan berapa bobotnya ketika itu.

Kepalanya menjadi berbobot 50 kg, tangannya menjadi 25 kg, kakinya menjadi 30 kg, dan seterusnya. Bisa-bisa sang pilot tidak mampu mengangkat kepala, karena otot lehernya tidak terlatih. Atau bisa jadi tangannya menjadi sulit digerakkan untuk menggerak kemudi, karena ototnya mendadak seperti lemas tak bertenaga.

Bahkan bukan hanya itu, otak si pilot bisa mengalami problem juga. Sebagai contoh, Anda pernah naik lift yang kecepatannya agak tinggi? Nah, pada saat lift itu bergerak terasa ada tekanan di otak kita, ‘nyuuut’!

Kalau percepatannya lebih tinggi lagi, rasa ‘nyuut’ di otak itu akan semakin besar. Seperti orang yang jatuh bebas ke dalam sebuah sumur yang dalam. Bisa-bisa seseorang akan mengalami ‘hilang kesadaran’. Apalagi manuver pilot dengan percepatan sampai 5G. Pilot yang tidak terlatih bisa-bisa mengalami black out alias semaput atau pingsan di angkasa.

Apa yang saya ceritakan di atas adalah kecepatan-kecepatan yang masih tergolong rendah untuk ukuran alam semesta. Itu saja, badan manusia sudah tidak kuat menanggung bebannya. Apalagi jika kita bermain-main dengan kecepatan cahaya, yang per detiknya bisa mencapai 300.000 km. Sungguh, badan manusia tidak akan mampu menahannya.

Efek yang bakal terjadi bukan hanya pingsan. Tetapi lebih dahsyat dari itu : badan manusia akan tercerai-berai menjadi partikel partikel sub atomik, sebelum mencapai kecepatan cahaya. Kenapa bisa demikian ?

Sebagaimana saya jelaskan di atas, tubuh manusia tersusun dari partikel-partikel sub atomik yang saling bergandengan menggunakan binding energy alias ‘energi ikat’. Nah, ketika dipercepat dengan kecepatan sangat tinggi, maka muncullah gaya yang berlawanan dengan energi ikat tersebut. Semakin tinggi kecepatan yang diberikan kepada benda, maka energi yang melawan binding energy tersebut semakin besar. Sehingga, suatu ketika tubuh manusia itu akan ‘buyar’ menjadi partikel-partikel kecil.

Hal ini bisa diumpamakan dengan contoh berikut. Ada sejumlah orang bergandengan tangan, berderet ke samping. Sederet orang tersebut lantas disuruh berpusing, dengan salah satunya menjadi pusat putarannya. Semakin cepat, dan semakin cepat. Maka apakah yang terjadi? Suatu ketika pegangan tangan mereka tidak mampu lagi untuk saling berjabatan, disebabkan oleh kekuatan putar itu telah memunculkan tenaga yang melawan kekuatan pegangan mereka. Akhimya, pegangan tangan mereka pun terlepas. Mereka jatuh bergelimpangan.

Hal inilah yang bakal terjadi pada tubuh manusia yang melesat dengan kecepatan tinggi. Bahkan, jauh sebelum badannya terburai menjadi partikel-partikel sub atomik, organ-organ tubuhnya sudah rusak duluan. Jantungnya berhenti berdenyut, diikuti kesadaran yang menghilang, dan kemudian disusul gagalnya fungsi seluruh organ-organ tubuhnya.

Dengan demikian, maka secara ilmiah memang sulit untuk mengatakan bahwa Rasulullah saw melakukan perjalanan tersebut dengan badan wadag nya yang normal. Beliau tidak akan bisa bergerak sekencang malaikat Jibril dan Buraq, karena badannya memang bukan terbuat dari cahaya.

Nah, disinilah kata kunci kedua ‘asraa’ menjelaskan. Bahwa perjalanan itu memang tidak atas kemampuan Rasulullah saw sendiri, melainkan ‘diperjalankan’ oleh Yang Maha Perkasa dan Maha Berilmu.

Namun demikian, kita tetap harus mencari penjelasannya agar bisa diterima oleh akal. Adakah alternatif penjelasan yang bisa memberikan pemahaman secara scientific? Ternyata Fisika Modern bisa memberikan penjelasan yang masuk akal tersebut.

Diubah Menjadi Badan Cahaya.

Salah satu ’skenario rekonstruksi’ untuk mengatasi problem di atas adalah teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan antimaterinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama.

Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir bahwa jika ada partikel proton dipertemukan dengan antiproton, atau elektron dengan positron (antielektron), maka kedua pasangan partikel tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gama, dengan energi masing masing 0,511 MeV untuk pasangan partikel elektron dan 938 MeV untuk pasangan partikel proton

Sebaliknya, jika ada seberkas sinar Gama yang memiliki energi sebesar itu dilewatkan medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi 2 buah pasangan partikel seperti di atas. Hal ini menunjukkan bahwa materi memang bisa dirubah menjadi cahaya dengan cara tertentu, yang disebut sebagai reaksi Annihilasi.

Teori ini bisa kita gunakan untuk menjelaskan proses perjalanan Rasulullah saw pada etape pertama ini. Agar Rasulullah saw dapat mengikuti kecepatan Jibril dan Buraq, maka badan wadag Rasulullah saw diubah oleh Allah menjadi badan cahaya. Hal ini dimaksudkan untuk ‘mengimbangkan’ kualitas badan Nabi dengan Jibril dan Buraq yang menjadi ‘kawan seperjalanan’ beliau. Seperti kita ketahui bahwa Jibril dan Buraq adalah makhluk berbadan cahaya.

Kapankah hal itu dilakukan? Tentu sebelum beliau berangkat. Kemungkinannya, ketika Jibril mengajak Nabi untuk mensucikan hati beliau dengan menggunakan air Zam zam.

Telah diceritakan bahwa sebelum berangkat Rasulullah saw disucikan menggunakan air Zam zam oleh Jibril. Di riwayat yang lain, diceritakan bahwa Jibril mengoperasi hati Rasulullah saw dan mensucikannya dengan air Zam zam.

Manusia adalah sebuah sistem energi yang berpusatkan di hati. Seluruh perubahan yang terjadi pada sistem energi tubuh seseorang bisa tercermin di frekuensi hatinya. Sebaliknya, karena hati menjadi pusat sistem energi itu, maka jika ingin melakukan perubahan terhadap sistem tersebut juga bisa dilakukan ‘mereaksikan’ hatinya.

Itulah, agaknya, yang terjadi pada Rasulullah saw saat ‘dioperasi’ oleh malaikat Jibril, di dekat sumur Zam-zam. Jibril melakukan manipulasi terhadap sistem energi dalam tubuh Rasulullah. Seluruh badan material Rasulullah di ‘annihilasi’ oleh Jibril menjadi badan cahaya. Sebagai makhluk cahaya yang cerdas, Jibril paham betul tentang proses-proses annihilasi. Sebagaimana firman Allah dalam

An-Najm :6

“yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.”

Maka, dalam sekejap, tubuh material Nabi pun berubah menjadi tubuh cahaya. Dan beliau siap melakukan perjalanan bersama Jibril dan Buraq, sebab ketiga-tiganya telah memiliki kualitas badan yang sama, yaitu badan cahaya. Maka Allah pun memperjalankan ketiganya menuju masjid al Aqsha di Palestina.

Perjalanan dengan Kecepatan Cahaya

Setelah ketiganya siap, maka mereka segera berangkat dan melesat dengan kecepatan sangat tinggi sekitar 300.000 km per detik. Ya, ketiga makhluk cahaya itu melesat menempuh perjalanan Mekkah Palestina yang berjarak 1500 km itu hanya dalam waktu sekejap mata saja. Atau lebih detilnya sekitar 0,005 detik, dalam ukuran waktu manusia!

Namun demikian, Rasulullah saw melakukannya dengan kesadaran penuh. Adanya relativitas waktu antara Dunia manusia dengan Dunia malaikat menyebabkan Rasulullah merasakan sepenuhnya perjalanan itu. Sehingga segala peristiwa yang terjadi dalam perjalanan, beliau bisa mengingat dan menceritakan kembali.

Bayangkan seperti orang yang lagi bermimpi. Meskipun orang tersebut hanya bermimpi selama 1 menit, tetapi dia bisa bercerita tentang mimpinya yang ’sangat panjang’. Kenapa demikian? Karena waktu yang berjalan di Dunia mimpi dan Dunia nyata berbeda.

Sama dengan yang terjadi pada Rasulullah saw. Pada waktu itu, beliau tidak sedang bermimpi. Beliau betul-betul melakukan perjalanan dengan badannya. Tetapi badan yang sudah diubah menjadi cahaya. Nah, karena ada relativitas waktu, maka waktu yang sekejap itu pun bagi Rasulullah sudah, cukup untuk menangkap seluruh kejadian yang dialaminya.

Maka, tidak heran jika beliau bisa menjawab berbagai, pertanyaan orang kafir yang ingin mengujinya. Di antaranya, beliau bisa bercerita betapa dalam perjalanan itu ada sekelompok kafilah atau pedagang yang unta dan kudanya lari ketakutan, saat Rasulullah saw dan Jibril melintas di dekatnya. Para kafilah itu tidak bisa melihat Rasulullah yang berbadan cahaya, tetapi rupanya unta dan kuda-kuda mereka bisa merasakan kehadiran Rasulullah, Jibril dan Buraq yang melintas dengan kecepatan sangat tinggi.

3. HambaNya

Kata kunci yang ketiga adalah bi’abdihi alias hambaNya. Ada dua makna yang terkandung di dalam kata ini. Yang pertama, kata ‘abdi menggambarkan bahwa Rasulullah saw diperjalankan sebagai manusia seutuhnya. Artinya, jiwa dan raganya. Karena kata hamba memang menunjuk kepada totalitas diri seorang manusia.

Penggunaan kata ‘abdi’ ini seringkali digunakan untuk menepis anggapan bahwa Rasulullah saw melakukan perjalanan itu tidak bersama badannya. Hanya ruh atau penglihatannya saja. Para ahli tafsir sepakat bahwa dengan menggunakan kata abdi, maka Allah memberikan isyarat bahwa perjalanan itu dilakukan oleh Muhammad saw sebagai manusia seutuhnya, jiwa dan badannya.

Makna kedua yang terkandung di dalam kata ‘abdi adalah bahwa tidak sembarang orang bisa melakukan perjalanan seperti yang dialami Rasulullah saw. Yang bisa melakukan perjalanan luar biasa itu hanya seseorang yang sudah mencapai tingkatan tertentu di dalam kualitas beragamanya, yaitu ‘abdihi’ hamba Allah.

Apakah hebatnya seorang ‘abdihi ? Seorang hamba adalah seseorang yang mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk ‘Majikannya’. Memang, kalau yang dimaksud adalah hamba alias budak manusia, dia adalah orang yang terhina. Akan tetapi jika dia adalah seorang hamba Allah, lain persoalannya.

Justru, seorang hamba Allah adalah orang yang memiliki derajat sangattinggi di hadapan Allah. Karena, orang semacam ini telah meniadakan’aku’alias’ego’nya. Yang ada hanya Allah semata di dalam hidupnya. Dia tidak memiliki keinginan pribadi, yang ada hanya keinginan Allah. Dia telah berserah diri sepenuh penuhnya kepada kehendak Allah. Inilah puncak tertinggi di dalam proses beragama. Karena, sesungguhnya dia telah bisa mengaplikasikan kalimat laa ilaaha illallah, dengan sebenar benamya.

Nah, informasi itulah yang saya tangkap dari kata kunci ketiga ini. Bahwa Allah ingin menyampaikan kepada kita, perjalanan malam itu bukan sembarang perjalanan, dan hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah mencapai tingkatan ‘hamba’ dalam proses beragamanya.

bersambung……………

Rahasia Angka2 Dalam Al-Qur’an

Kata-kata dalam Al-Qur’an, dengan sejumlah pengulangannya merupakan Mukjizat, jumlah kata-kata dalam Al-Qur’an yang menegaskan kata-kata yang lain ternyata jumlahnya sama dengan jumlah kata-kata Al-Qur’an yang menjadi lawan kata atau kebalikan dari kata-kata tersebut, atau diantara keduanya ada nisbah kontradiktif.

Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada ayat-ayat mulianya, makna-maknanya, prinsip-prinsip dan dasar-dasar keadilannya serta pengetahuan-pengetahuan gaibnya saja, melainkan juga termasuk jumlah-jumlah yang ada dalam Al-Qur’an itu sendiri, begitu juga pengulangan kata dan hurufnya, orang-orang yang melakukan ‘ulum’ Al-Qur’an sejak dulu sudah menyadarai adanya fenomena tersebut mempunyai maksud dan tujuan tertentu.

Para peneliti terdahulu sudah mencatat, bahwa surat-surat yang dibuka dengan huruf-huruf ‘muqaththa’ah’ berjumlah 29 surat, sementara jumlah huruf ‘hijaiyah’ Arab ditambah dengan huruf “Hamzah” juga berjumlah 29 huruf hal ini dengan sudut pandang bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.

Berikut ini adalah sejumlah perhitungan yang benar-benar merupakan Mukjizat, dari jumlah kata dalam Al-Qur’an sebanyak 51.900, Jumlah Juz 30, Jumlah Surat 112, keanehan yang ada diantaranya sbb :

* Kata ‘Iblis” ( La’nat ALLAH ‘alaihi ) dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 11 kali, sementara “Isti’adzah” juga disebutkan 11 kali, Kata “ma’siyah” dan derivatnya disebutkan sebanyak 75 kali, sementara kata “Syukr” dan derivatnya juga disebutkan sebanyak 75 kali.
* Kata “al-dunya” disebutkan sebanyak 115 kali, begitu juga kata “al-akhirah” sebanyak 115 kali.
* Kata “Al-israf” disebutkan 23 kali, kata kebalikannya “al-sur’ah” sebanyak 23 kali.
* Kata “Malaikat” disebutkan 88 kali, kata kebalikannya ‘Al-syayathin” juga 88 kali.
* Kata “Al-sulthan disebutkan 37 kali, kata kebalikannya “Al-nifaq” juga 37 kali.
* Kata “Al-harb”(panas) sebanyak 4 kali, kebalikannya “ Al-harb” juga 4 kali.
* Kata “ Al-harb (perang) sebanyak 6 kali, kebalikannya “Al-husra” (tawanan) 6 kali.
* Kata “Al-hayat” (hidup” sebanyak 145 kali, kebalikannya “Al-maut” (mati) 145 kali.
* Kata “Qalu” (mereka mengatakan) sebanyak 332 kali, kebalikannya “Qul” ( katakanlah) sebanyak 332 kali.
* Kata “Al-sayyiat” yang menjadi kebalikan kata “Al-shahihat” masing-masing 180 kali.
* Kata “Al-rahbah” yang menjadi kebalikan kata “Al-ragbah” masing-masing 8 kali.
* Kata “Al-naf’u” yang menjadi kebalikan kata “Al-fasad” masing-masing 50 kali.
* Kata “Al-nas” yang menjadi kebalikan kata “Al-rusul” masing-masing 368 kali.
* Kata “Al-asbath” yang menjadi kebalikan kata “Al-awariyun” masing-masing 5 kali
* Kata “Al-jahr” yang menjadi kebalikan kata “Al-alaniyyah” masing-masing 16 kali
* Kata “Al-jaza” 117 kali ( sama dg kebalikannya),
* Kata “Al-magfiroh” 234 kali ( sama dengan kebalikannya),
* Kata “Ad-dhalala” ( kesesatan) 191 kali ( sama dengan kebalikannya),
* Kata “Al-ayat” 2 kali “Ad-dhalala” yaitu 282 kali. Dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu disini.

YANG LEBIH MENGEJUTKAN , CHECK THIS OUT :

* Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk tunggal disebutkan sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada tahun Syamsyiyyah.
* Kata “Syahr” ( bulan) sebanyak 12 kali, sama dg jumlah Bulan dalam satu Tahun.
* Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk plural (jamak) sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu Bulan.
* Kata “Sab’u” (minggu) disebutkan 7 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu minggu.
* Jumlah “ saah” (jam) yang didahului dengan ‘harf’ sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam satu hari.
* Kata “Sujud” disebutkan 34 kali, sama dengan jumlah raka’at dalam solat 5 waktu
* Kata “Shalawat” disebutkan 5 kali, sama dengan jumlah solat wajib sehari semalam.
* Kata “Aqimu” yang diikuti kata “Shalat” sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah Raka’at Sholat fardhu/ wajib.

subhanallah….

hanya orang2 rugi sejati yang  :

tidak mau menyempatkan diri barang sejenak ,

menanggalkan ego dan berfikir secara logis,

untuk mempelajari Al Qur’an yang super sempurna ini …..

love is cinta

begitu banyak definisi kata “cinta”, sehubungan dengan keberadaan kehidupan manusia.

begitu banyak nilai2 yang disuguhkan oleh kata “cinta”.

begitu banyak kejadian yang mengiringi kata ” cinta”.

begitu banyak kata2 indah tercipta karena “cinta”.

begitu banyak orang jadi kaya karena kata “cinta”

begitu banyak orang mati sia2 karena “cinta”

apakah sesungguhnya arti kata “cinta”? maknanya?

haruskah kita mengarungi sederet kenyataan diatas untuk mengetahui arti dan makna “cinta”?

mari kita inventarisasi arti dan makna “cinta” dalam kenyataan hidup sehari-hari :

cinta ibu kepada anak….

cinta anak kepada orangtua….?

cinta bapak kepada istri dan anak

cinta suami kepada istri dan sebaliknya…..?

cinta anak muda kepada kekasihnya….?

cinta presiden kepada negara dan bangsanya….?

cinta tukang becak kepada  becaknya

cinta politikus kepada partainya…..?

cinta aktifis kepada firqohnya…?

cinta pekerja kepada pekerjaannya

cinta murid kepada gurunya….?

cinta guru kepada muridnya

cinta Rosululloh kepada umatnya

cinta Rosululloh kepada Alloh

cinta hamba kepada Tuhannya….?

cinta Alloh kepada seluruh ciptaan Nya

cinta penulis kepada idenya

cinta penulis kepada setiap kejadian

cinta penulis kepada para pembacanya

cinta penulis kepada…..?

jika saya sebutkan satu persatu akan terlalu panjang dan akan membuat bosan yang membacanya.

dari uraian di atas, akan membuat sederet kesimpulan yang mewakili kesadaran, kebiasaan, keikhlasan, kebesaran, kecerobohan, kesetiaan, ketekunan dan lain2.

nilai cinta akan terus berlapis sesuai dengan motif subyek dan obyek.

dimanakah nilai cinta anda ?

seberapa besarkah nilai cinta anda kepada :

Alloh

rosululloh

ilmu

kehidupan ini

diri anda sendiri

guru anda

keluarga anda

teman dan sahabat anda

lingkungan anda

negara dan bangsa

umat manusia

seberapa besarkah…?

marilah kita duduk sejenak, melemaskan otot fikir dan emosi, sambil membaca syair2 cinta berikut ini :

Syair Ali Bin Abi Thalib

Awal peristiwa dari pandangan mata,
Laksana setitik bara api,
Saat mata mengembara,
Laksana jilatan api,
Perlahan namun pasti,
Menerkam semua pemandangan,
Merasuk pikiran terbayang – bayang,
Hasrat pasti mewujudkan impian,
Bermain – main mereguk kesenangan,
Berbuah gemilang dosa


Syair Ali Ibnu Abdul Aziz

Wahai orang yang berselimut kebahagiaan teruslah meneteskan air mata
Menangislah dalam ketertawaan awan yang mencekam jiwa
Dunia penuh dengan aroma kebahagiaan, keindahan dan kedamaian
Berjuta cita – cita menyejukkan akal pikiran
Ketenangan, kenikmatan dan kebahagiaan selalu kurasakan
Setelah kuharamkan diri dari kemaksiatan
Diriku masih condong kepada hingar bingar nafsu birahi dari kehinaan
Telah kusiapkan untuk perbaikkan
Dia berkata, “inilah minumanmu,”
Kujawab, “aku telah melihatnya,”
Tetapi jiwa yang lepas membawa kehausan yang merana
Rona kehidupan dunia tak pernah lepas dari noda dan dosa
Pertanyaan selalu membayangi mereka, apa dan kenapa dirinya ada
Diriku telah menjadi orang hina dan nista, hingga tak berdaya
Aku telah mengadu kepada jiwa yang memancarkan ketenangan dan kemuliaan
Setiap kilauan menggetarkan nyali nadiku
Tak semua orang di dunia ini mensyukuri nikmat dari Tuhanku

Bila cinta memanggilmu, turutilah bersamanya

Kendati jalan yang mesti engkau sangat keras dan terjal
Ketika sayap-sayapnya merangkulmu, maka berserah dirilah padanya
Sekalipun pedang-pedang yang bersemayam di balik sayap-sayap itu barangkali akan melukaimu
Ketika ia bertututr kepadamu, maka percayalah padanya
Wlalaupun suaranya akan memporandakan mimpi-mimpimu laksana angin utara yang meluluh-lantakkan tetanaman
Cinta akan memahkotai dan menyalibmu
Menyuburkan dan mematikanmu
Membubungkanmu terbang tinggi, mengelus pucuk-pucuk rerantinganmu yang lentik dan menerbangkanmu ke wajah matahari
Namun cinta juga akan mencekik dan menguru-uruk akar-akarmu sampai tercabut dari perut bumi
Serupa dengan sekantong gandum, cinta menyatukan dirimu dengan dirinya
Melolosmu sampai engkau bugil bulat
Mengulitimu sampai engkau terlepas dari kulit luarmu
Melumatmu untuk memutihkanmu
Meremukkanmu sampai engkau menjelma liat
Lantas,
Cinta akan membopongmu ke kobar api sucinya
Sampai engkau berubah menjadi roti yang disuguhkan dalam suatu jamuan agung kepada Tuhan
Cinta melakukan semua itu hanya untukmu sampai engkau berhasil menguak rahasia hatimu sendiri
Agar dalam pengertianmu itu engkau sanggup menjadi bagian dari kehidupan
Jangan sekali-kali engkau ijinkan ketakutan bersemayam di hatimu
Supaya engkau tidak memperbudak cinta hanya demi meraup kesenangan
Sebab memang akanjauh lebih mulia bagimu
Untuk segera menutupi aurat bugilmu dan meninggalkan altar pemujaan cinta
Memasuki alam yang tak mengenal musim
Ynag akan membuatmu bebas tersenyum, tawa yang bukan bahak, hingga engkaupun akan menangis, air mata yang bukan tangisan
Cinta tak akan pernah menganugerahkan apa pun kecuali wujudnya sendiri
Dan tidak sekali-kali menuntut apapun kecuali wujudnya sendiri itu pula
Cinta tidak pernah menguasai dan tidak pernah dikuasai
Lantaran cinta terlahir hanya demi cinta
Manakala engkau bercinta, jangan pernah tuturkan “Tuhan bersemayam di dalam lubuk hatiku.”
Namun ucapkanlah “Aku tengah bersemayam di dalam lubuk hati Tuhan.”
Jangan pula engkau mengira bahwa engkau mampu menciptakan jalanmu sendiri.
Sebab hanya dengan seijin cintalah jalanmu akan terkuak
Cinta tidak pernah mengambisikan apapun kecuali pemuasan dirinya sendiri
Tetapi bila engkau mencintai dan terpaksa mesti menyimpan hasrat, maka jadikanlah hasratmu seperti ini:
Melumatkan diri dan menjelma anak-anak sungai yang gemericik mengumandangkan tembang ke ranjang malam
Memahami nyerinya rasa kelembutan
Berdarah oleh pandanganmu sendiri terhadap cinta
Menanggung luka dengan hati yang penuh tulus nan bahagia
Bangkit di kala fajar dengan hati mengepakkan sayap-sayap
Dan melambaikan rasa syukur untuk limpahan hari yang berbalur cinta
Merenungkan muara-muara cinta sambil beristirahat di siang hari
Dan kembali di kala senja dengan puja yang menyesaki rongga hati
Lantas, engkaupun berangkat ke peraduanmu dengan secarik doa
Yang disulurkan kepada sang tercinta di dalam hatimu
Yang diiringi seuntai irama pujian yang meriasi bibirmu.


Syair Rabi’ah Al-Adawiyah

Jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu,
Maka bakarlah aku dengan api jahanam.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga-Mu,
Maka haramkanlah aku memasukinya.
Namun jika aku beribadah kepada-Mu karena cinta kepada-Mu saja,
Maka janganlah engkau haramkan aku untuk menyaksikan wajah-Mu.
Duhai Tuhan, jadikanlah neraka itu untuk musuh-musuh-Mu,
Dan surga untuk para kekasih-Mu,
Sedangkan untuk aku, cukup Engkau saja,
Ya Rabb ………

Syair Rabi’ah Al-Adawiyah

Wahai Kegembiraanku,
Wahai Cita-citaku,
Wahai Tiang Penyanggaku,
Wahai penghiburku,
Wahai Persiapanku,
Wahai Yang Menjadi Tujuanku,
Engkaulah ruh hatiku,
Engkaulah harapanku,
Engkaulah penghiburku,
Rindu kepada-Mu adalah bekalku
Jika Engkau meridhai aku,
Wahai harapan hatiku
Telah Nyata kebahagiaanku
(Syair Rabi,ah Al Adawiyah)
1
Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu
Hingga tak ada sesuatupun yang menggangguku dalam jumpaMu
Tuhanku, bintang-gemintang berkelap-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu-pintu istana pun telah rapat tertutup
Tuhanku, demikian malampun berlalu
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku Kau Terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau Tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mua
Inilah yang akan selalu ku lakukan
Selama Kau Beri aku kehidupan
Demi kemanusiaan-Mu,
Andai Kau Usir aku dari pintuMu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu

2
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuhMu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

3
Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku padaNya
Ya Allah, jika aku menyembahMu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembahMu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembahMu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu
Yang abadi padaku

4
Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
Kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, diantara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa denganMu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakana
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau Kehendaki

5
Aku mencintaiMu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingatMu
Cinta karena diriMu, adalah keadaanMu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
BagiMu pujian untuk semua itu

6
Buah hatiku, hanya Engkau yang kukasihi
Beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadiratMu
Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku
Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau

7
Hatiku tenteram dan damai jika aku diam sendiri
Ketika Kekasih bersamaku
CintaNya padaku tak pernah terbagi
Dan dengan benda yang fana selalu mengujiku
Kapan dapat kurenungi keindahanNya
Dia akan menjadi mihrabku
Dan rahasiaNya menjadi kiblatku
Bila aku mati karena cinta, sebelum terpuaskan
Akan tersiksa dan lukalah aku di dunia ini
O, penawar jiwaku
Hatiku adalah santapan yang tersaji bagi mauMu
Barulah jiwaku pulih jika telah bersatu dengan Mu
O, sukacita dan nyawaku, semoga kekallah
Jiwaku, Kaulah sumber hidupku
Dan dariMu jua birahiku berasal
Dari semua benda fana di dunia ini
Dariku telah tercerah
Hasratku adalah bersatu denganMu
Melabuhkan rindu

8
Sendiri daku bersama Cintaku
Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang
Lintas dan penglihatan batin
Melimpahkan karunia atas doaku
Memahkotaiku, hingga enyahlah yang lain, sirna
Antara takjub atas keindahan dan keagunganNya
Dalam semerbak tiada tara
Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu
Ku saksikan yang datang dan pergi dalam kalbu
Lihat, dalam wajahNya
Tercampur segenap pesona dan karunia
Seluruh keindahan menyatu
Dalam wajahNya yang sempurna
Lihat Dia, yang akan berkata
“Tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Yang maha Mulia.”

9
Rasa riangku, rinduku, lindunganku,
Teman, penolong dan tujuanku,
Kaulah karibku, dan rindu padaMu
Meneguhkan daku
Apa bukan padaMu aku ini merindu
O, nyawa dan sahabatku
Aku remuk di rongga bumi ini
Telah banyak karunia Kau berikan
Telah banyak..
Namun tak ku butuh pahala
Pemberian ataupun pertolongan
CintaMu semata meliput
Rindu dan bahagiaku
Ia mengalir di mata kalbuku yang dahaga
Adapun di sisiMu aku telah tiada
Kau bikin dada kerontang ini meluas hijau
Kau adalah rasa riangku
Kau tegak dalam diriku
Jika akku telah memenuhiMu
O, rindu hatiku, aku pun bahagia

tekhnologi dua kalimat syahadat ( I )

sebagai lanjutan dari artikel tentang tekhnologi, berikut ulasan tentang tekhnologi di balik dua kalimat syahadat.

sesuai posisinya dalam kehidupan seorang muslim, syahadatain merupakan pintu masuk ke dimensi terindah dalam kehidupan ini : ISLAM ( baca : keselamatan). sesuai dengan konsep judulnya, islam menyuguhkan sebuah tekhnologi untuk mencapai ” keselamatan” dunia dan akherat.

tekhnologi berarti cara atau metode untuk mencapai sesuatu. dalam hal ini, syahadatain adalah top technology ( baca : tekhnologi teratas) dari seluruh sistem tekhnologi di dalam Islam, jika kita bisa mengkaji dan mengurainya dengan jelas.

Mari kita kaji dari awal syahadatain, sehubungan dengan arti katanya.

“ Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rosul(utusan) Alloh.”

Kalau ditelan ringan saja, ya memang ketika seseorang membacanya, berarti dia harus mengimani kalimat tersebut, dalam artian mengucapkan dengan lisan, meyakini dalam hati dan membuktikannya dalam amal perbuatan. Keterangan ini sudah kita dapatkan sejak dari sekolah dasar, tapi ternyata belum terlalu mengena dalam kehidupan, maksudnya sering belum terbukti nilai syahadatnya dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa bisa demikian?

Jika kita kaji lebih dalam sehubungan dengan dimensi dalam diri kita, kata “ aku “ dalam syahadatain berarti adalah semua komponen yang ada di dalam diri kita : Raga(R), Otak(O) dan Hati(H). Jika R.O.H.(raga, otak dan hati ) sudah mengimani bahwa tiada Tuhan yang patut disembah dan dipatuhi selain Alloh, berarti R.O.H.(raga , otak dan hati) harus selalu bertindak sesuai dengan apa yang Alloh kehendaki, sesuai dengan apa yang tertuang dalam Firman2 Alloh di dalam Al Qur’an.

Sebagai ilustrasi untuk pengantar nilai2 kehendak Alloh,akan saya refleksikan ke dalam nilai2 sistem yang ada di dalam alam semesta. Bahwa alam semesta ini mempunyai nilai2 yang diberikan Alloh sebagai berikut :

- disiplin

- teratur

- proporsional

- istiqomah

- taat

Bayangkan, jika bumi tidak disiplin dalam berputar? Bayangkan, jika perputaran tatasurya tidak teratur? Bayangkan, jika ukuran dan jarak tiap planet tidak proporsional dengan ukuran dan jarak matahari? Bayangkan, jika perputaran bulan terhadap bumi dan bumi terhadap matahari tidak istiqomah(terus menerus)? Bayangkan jika semua isi alam semesta ini tidak taat kepada system yang sudah Alloh atur dan berikan? Kiamat = kehancuran.

Ibarat alam semesta,alam semesta diumpamakan dunia besar dan diri kita ini adalah dunia kecil, yang keduanya mempunyai anggota komponen yang saling terkait.

Makanya, jika R.O.H. kita tidak sesuai dengan system yang Alloh tetapkan, maka akan terjadi kiamat ( kehancuran) R.O.H., dalam artian akan terjadi kekacauan system antara raga, otak dan hati.

Dari 5 nilai system alam semesta ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa untuk membuktikan R.O.H.(raga, otak dan hati) kita beriman kepada Alloh, maka minimal harus megikuti aturan 5 nilai system tersebut.

Nilai keimanan kepada Alloh dan Rosululloh di dalam syahadatain bisa diartikan sesuai nilai dimensinya : akherat dan dunia. Kenapa akherat ada di depan kalimat kemudian disusul dengan dunia, sesuai dengan sebuah kutipan di salah satu ayat di dalam Al Qur’an :”…peliharalah akheratmu, maka Ku pelihara duniamu.”

Di sini tercermin bahwa memang Alloh membuat system yang terstruktur dengan baik sesuai dengan dimensinya, agar manusia mempelajari dan mengerti tentang system yang Alloh suguhkan kepada manusia.

Namun nilai ini sempat salah arah ketika marak dipublikasikan ke dalam buku2 cetakan bagus tentang sufisme islam yang beberapa memuat tentang nilai2 bias bahwa kita harus selalu memikirkan akherat setiap saat tanpa mengindahkan dunia, dengan nilai pandang yang kurang mencerminkan apa yang dicontohkan Rosululloh.

Dari system yang dicerminkan di dalam syahadatain, bahwa kita harus benar2 serius dalam menjalankan nilai syahadat yang pertama ( akherat) dan yang kedua ( dunia), dengan berusaha menyeimbangkan nilai ikhtiar pada tiap dimensinya ( akherat dan dunia).

Ada kesimpulan yang menarik ketika penulis menelaah tentang nilai2 akherat yang tercermin dalam kejadian2 yang dialami para pelaku iman ( baca: ulama), bahwa ketika kita berusaha menjaga nilai2 akherat ke dalam kehidupan di dunia, maka secara tidak diduga, keseimbangan niali dunia akan selalu terjaga.

Ketika kita menjalankan nilai2 akherat, maka akan menghasilkan nilai2 yang dewasa ini banyak disuguhkan oleh beberapa motivator di dalam training manajemen personal, seperti : kesungguhan, ketekunan, keikhlasan, kesadaran, kecerdasan, ketepatan berfikir dan bertindak serta kepemimpinan.

Dari nilai akherat( syahadat pertama : dimensi suci Alloh) kita akan melangkah ke nilai syahadat yang kedua yaitu nilai dunia : dimensi Muhammad.

Nabi Muhammad, sebagai sosok manusia yang terstruktur sejak awal kehidupannya, mempunyai system hidup yang patut kita contoh. Dari kecil, beliau sudah mencontohkan akhlak atau sikap hidup yang ideal, dengan tercermin dari hadist2 soheh yang menceritakan tentang kesempurnaan akhlak beliau sejak dari kecil.

Akhlak beliau menjadi semakin sempurna ketika diturunkan ayat2 Alloh kepada beliau . Semua kekurangan beliau terlengkapi dengan adanya standard akhlak yang disampaikan Alloh melalui Al Qur’an.

Dari kolaborasi akhlak bawaan Rosululloh dengan penyempurnaan akhlak dari Al Qur’an, maka tercipta tekhnologi akhlak yang bisa menghantarkan kita kearah tujuan yang kita inginkan.

Dari semua uraian diatas, menghasilkan kesimpulan sementara bahwa syahadatain adalah sebuah tekhnologi dari Alloh untuk mencapai kehidupan yang ideal dan diinginkan seluruh umat manusia yaitu keselamatan akherat dan dunia ( baca: ISLAM).

To be continue………………….

forewords

english version

for the first time I publish all the theories relating with my willing to share the process of my ” search,find, understand and do some act” .

Al Qur’an is the only best sources of any theory in this world, but to prove it, we must give the ” touchable” words so that many people can reach the point of the whole truth on it. Al Qur’an has many “mutasyabihat” verse which often makes some people confuse to get the meaning.

so, here,  truthological theory try to give the bridge to unlimited -truth- zone with unlimited explore of everything based on Al qur’an Al Kharim.

I hope, all muslimun who cares about the goal of our Prophet Muhammad,and all the people who always curious abaout the truth, please joint with me to share all the process of ” search, find , understand and do some act”.

enjoy this gathering, and please feel free to share , give a critical and ask about anything relating with this space.

I do my best to share anything….

————

versi bahasa indonesia

prakata

baru kali ini saya mempublikasikan tulisan2 saya , yang bertujuan untuk membagi pengalaman saya selama proses ” cari , temukan , fahami dan amalkan”.

Al Qur’an adalah satu2nya sumber yang paling sempurna atas semua teori2 yang ada di seluruh dunia. untuk membuktikannya, kita harus menyuguhkan dengan bahasa yang bisa dicerna secara logika, dengan harapan semua orang bisa mengerti tentang kandungan kebenaran di dalamnya.

Al Qur’an mengandung banyak ayat2 ” mutasyabihat”( ayat2 yang perlu pemahaman serta perenungan dalam mengerti maknanya),dimana sering membuat bingung beberapa kalangan untuk mengerti maknanya.

Disini,” truthology” berusaha menyediakan “jembatan” ke zona -kebenaran tanpa batas-dengan selalu meng eksplore segala hal dan selalu mengacu pada Al Qur’anul Karim.

Harapan saya, semua umat muslim yang benar2 perduli terhadap cita2 suci Rosululloh SAW ,dan semua orang yang haus dan masih mencari-cari tentang nilai2 kebenaran berkenan bergabung bersama saya untuk saling berbagi pengalaman dalam berproses ” cari , temukan, fahami dan amalkan”.

jadi,nikmati ruang berbagi ini dengan nyaman, dan jangan sungkan2 untuk berbagi , mengkritik atau bertanya sehubungan dengan blog ini.

saya persembahkan ikhtiar saya secara optimal untuk berbagi tentang segala hal…

ilmu pengetahuan

Kebanyakan umat Islam memisahkan antara Al Qur’an dengan ilmu pengetahuan. Bahkan lebih jauh, antara ‘agama’ dengan ilmu pengetahuan. Agama dan Al Qur’an dipersepsi sebagai kebenaran mutlak, sedangkan ilmu pengetahuan alias sains dipersepsi sebagai kebenaran relatif.

Agama Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmuwan. Bahkan memuliakannya. Berulangkali Allah mengatakan di dalam Al Qur’an, bahwa orang yang bisa memahami firman-firmanNya secara baik justru adalah para ilmuwan alias ulama.

QS. Faathiir (35): 28
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (ilmuwan). Sesungguhnya Allah Maha perkasa Maha Pengampun.

Merekalah orang-orang yang takut dengan sebenar-benarnya kepada Allah karena mengetahui betapa dahsyat ilmu dan Kekuasaan-Nya. Mereka benar-benar menyaksikan semua itu terhampar di sekitarnya. Sedangkan orang yang hanya belajar dari teks-teks Qur’an tanpa memahami realitas, hanyalah berteori belaka.
QS. Al Mujaadilah (58): 11
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

QS. Al Ankabuut (29): 43
Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu pengetahuan.

Kalau Anda membuka-buka Al Qur’an, anda bakal menjumpai ayat-ayat lebih banyak lagi yang memberikan penghargaan kepada para ilmuwan. Pada dasarnya, Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Jadi, salah besar kalau ada yang menjalani agama ini dengan berdasarkan dogma dan ikut-ikutan belaka.

Rasulullah bersabda, barangsiapa ingin memperoleh kebahagiaan dunia maka ia harus memahami ilmunya. Barangsiapa menginginkan kebahagiaan akhirat ia harus mencarinya dengan ilmu. Dan barangsiapa ingin memperoleh keduanya, mereka juga harus mengejarnya dengan ilmu.

Islam tidak bisa dipisahkan dari ilmu pengetahuan. Dalam segala bidang kehidupan. Ilmu pengetahuan sosial maupun pengetahuan alam. Dunia maupun akhirat.
Maka, dalam memahami asal-usul manusia pun kita harus memahami berbagai teks-teks Al Qur’an dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Hasilnya sungguh jauh berbeda dengan pemahaman yang bersifat doktrinal atau legenda-legenda sebagaimana kita bahas di depan.

Saya memperlakukan Al Qur’an sebagai sumber petunjuk yang harus dicross-check atau dipahami lewat data-data keilmuan yang sedang berkembang. Dengan cara itu, bakal terjadi penafsiran yang sangat dinamis seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

Bagi saya, memahami isi Al Qur’an adalah seperti pekerjaan seorang detektif yang merekonstruksi sebuah peristiwa yang telah berlalu. Kita hanya punya jejak-jejak pelaku, bekas-bekas kejadian, dan sejumlah barang bukti yang harus disusun untuk menduga terjadinya peristiwa itu di masa Iampau.

Tentu saja tidak bisa persis seperti peristiwa sesungguhnya. Peristiwa itu sendiri sudah berlalu. Dan itulah ‘kebenaran’ yang sesungguhnya. Sedangkan yang kita lakukan kini, tak lebih hanyalah sebuah rekonstruksi.

Sama dengan petunjuk Qur’an. Kebenaran yang sesungguhnya tersimpan di dalam Al Qur’an sedangkan tafsiran kita adalah semata-mata upaya berdasarkan perkiraan. Sangat dipengaruhi oleh background ilmu yang kita miliki. Sekaligus kejelian dan kepiawaian dalam melakukan rekonstruksi.

Maka, yang harus kita lakukan adalah mengumpulkan data dan bukti sebanyak-banyaknya agar bisa melakukan rekonstruksi mendekati sempurna.

Dengan kata lain, Allah sedang mendorong kita untuk berilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya agar kita bisa memahami petunjuk-petunjukNya di dalam Al Qur’an. Semakin banyak ilmu pengetahuan yang kita miliki, semakin bagus penafsiran yang kita lakukan.
Jadi, sebenarnya Al Qur’an adalah agama yang mendorong umatnya untuk berilmu pengetahuan seluas-luasnya. Sedalam-dalam-nya. Dan seahli-ahlinya. Tujuannya cuma satu: agar kita bisa memahami petunjukNya dengan lebih baik, dan berguna untuk menerangi jalan hidup kita memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Sesungguhnyalah Allah sangat menyayangi kita…

Dalam ayat yang saya kutip di atas pun, Allah memberikan penegasan: dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu pengetahuan.

Ditambahkan di ayat lainnya :Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah para ulama (ilmuwan).

Dan di berbagai ayat Allah mendorong lebih spesifik lagi dengan pertanyaan-pertanyaan: apakah kalian tidak meneliti bagaimana Allah menciptakan Unta? Bagaimana Allah meninggikan langit? Bagaimana Allah menegakkan gunung? Bagaimana Allah menghamparkan daratan? Bagaimana Allah menurunkan air hujan, menciptakan lautan dengan segala isinya, mempergantikan siang dan malam, memerintahkan lebah mengumpulkan madu, dan sebagainya.

Semua itu adalah sebuah dorongan untuk berilmu pengetahuan seluas-luasnya. Sampai-sampai Allah mengatakan, Dia tidak malu membuat nyamuk sebagai contoh ciptaan. Bahkan terhadap makhluk yang lebih rendah sekalipun. Sesungguhnya, di dalam contoh-contoh itu terkandung ilmu pengetahuan yang sangat dalam, bagi para ulama alias ilmuwan.

QS. Al Baqarah (2): 26
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik

Karena itu tidak heran Allah lantas mengatakan: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Inilah agama Islam. Agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Dan kemudian memberikan apresiasi yang tinggi kepada para ulama atau ilmuwan yang mengamalkan dan mengorientasikan ilmunya di jalan Allah. Mereka orang-orang yang mulia di dunia, mulia di akhirat, dan mulia di sisi Allah…

QS. Al Hajj (22): 50
Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan karya-karya yang salih, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia.

past, present and future

ketika kita berusaha untuk melongok nilai kebenaran di sekitar kita, akan tergambar 3 jenis menurut urutan waktu.
kebenaran yang sudah terjadi (PAST), kebenaran yang sedang terjadi (PRESENT), dan kebenaran yang akan terjadi (FUTURE).
kejadian yang sudah terjadi adalah kenyataan tentang kebenaran yang terjadi saat itu.
kejadian yang sedang terjadi adalah kenyataan kebenaran yang sedang terjadi saat ini, seperti anda saat ini sedang membaca artikel ini.
kejadian yang akan terjadi adalah beberapa alternatif kenyataan kebenaran yang akan terjadi, sesuai denagn formulasi kejadiannya.
kejadian yang sudah terjadi, bisa menjadi acuan formulasi untuk kejadian yang sedang dan akan terjadi.
kejadian yang sedang terjadi, akan menjadi pertaruhan kualitas arah kejadian yang akan terjadi.
alternatif kejadian yang akan terjadi, akan menjadi bahan persiapan yang sangat matang untuk mendapatkan hasil yang maksimal sesuai yang diinginkan, dan persiapan manajemen resiko tentang setiap kemungkinan yang akan terjadi.

dari uraian di atas, boleh kita tarik kesimpulan bahwa urutan kejadian waktu bisa mempengaruhi nilai kualitas di setiap kejadian.

hikmah dari masa lalu bisa jadi acuan kehati-hatian dan perbaikan untuk saat ini dan akan datang. sepak terjang hari ini sangat mempengaruhi kualitas formulasi masa depan. gambaran masa depan bisa meningkatkan keseriusan kita dalam menghadapi dan menjalani kehidupan saat ini/sekarang.

jika kita bisa men sinergi kan ketiga nilai kenyataan waktu tersebut untuk strategi masa depan, maka kita akan benar2 serius dalam menjalani setiap tarikan nafas kita setiap hari, dengan mengacu pada nilai kebenaran di masa depan yang bisa dikatakan hasil akhir dari semua ini yaitu kehidupan kekal ( baca: akherat)
ini semua adalah salah satu bentuk ikhtiar kita untuk memformulasikan takdir yang diinginkan Alloh,bahwa Alloh sangat menginginkan semua hambanya menjadi manusia yang sesuai dengan formulasi Al Qur’an.
Wallahu alam..

cahaya yang berlapis

Bagaimanakah ciri-ciri orang yang bakal masuk Surga atau masuk Neraka? Salah satunya digambarkan Allah lewat idiom cahaya. Orang-orang yang beriman dan banyak amal salehnya, kata Allah, akan memancarkan cahaya di wajahnya. Sebaliknya, orang-orang yang kafir dan banyak dosanya akan ‘memancarkan’ kegelapan. Hal itu dikemukakan olehNya di ayat-ayat berikut ini

QS Al Hadiid (57) : 12
“Pada hari dimana kalian melihat orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanannya.”

QS. Yunus (10) : 27
“… seakan-akan wajah mereka ditutupi oleh kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, mereka itulah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.”

Kenapakah orang-orang yang beriman dan banyak pahalanya memancarkan cahaya, sedangkan yang banyak dosa ‘memancarkan’ kegelapan alias kehilangan cahaya?

Ini memang rahasia yang sangat menarik. Allah sangat sering menggunakan istilah cahaya di dalam Al Qur’an. Dia mengatakan bahwa Allah adalah cahaya langit dan Bumi (QS. 24:35). Firman firmanNya juga berupa cahaya (Qur’an QS. 4:174; Taurat QS. 5:44; Injil QS. 5:46). Malaikat sebagai hamba-hamba utusanNya juga terbuat dari badan cahaya. Dan pahala adalah juga cahaya (QS. 57:19). Karena itu orang-orang yang banyak pahalanya memancarkan cahaya di wajahnya (QS. 57:12).

Kunci pemahamannya adalah di Al Qur’an Surat An Nuur: 35. Di ayat itu Allah membuat perumpamaan bahwa DzaNya bagaikan sebuah pelita besar yang menerangi alam semesta. Pelita itu berada di dalam sebuah lubang yang tidak tembus. Tetap di salah satu bagian yang terbuka, ditutupi oleh tabir kaca

Dari tabir kaca itulah memancar cahaya ke seluruh penjuru dunia, bagaikan sebuah mutiara. Pelita itu dinyalakan dengan menggunakan minyak Zaitun yang banyak berkahnya, yang sinarnya memancar dengan sendirinya tanpa disentuh api. Cahaya yang dipancarkan pelita itu berlapis-lapis, mulai dari yang paling rendah frekuensinya sampai yang tertinggi menuju cahaya Allah.

Ayat tersebut memberikan perumpamaan yang sangat misterius tetapi sangat menarik. Dia mengatakan bahwa hubungan antara Allah dengan makhlukNya adalah seperti hubungan antara Pelita (sumber cahaya) dengan cahayanya. Artinya makhluk Allah ini sebenarnya semu saja. Yang sesungguhnya ADA adalah DIA. Kita hanya ‘pancaran atau pantulan’ saja dari eksistensiNya.

Nah, cahaya yang dipancarkan oleh Allah itu berlapis-lapis mulai dari yang paling jelek (Kegelapan) sampai yang paling baik (Cahaya Putih Terang). Allah telah menetapkan dalam seluruh ciptaanNya itu bahwa Kegelapan mewakili Kejahatan dan Keburukan. Sedangkan Cahaya Terang mewakili Kebaikan.

Maka, kalau kita ingin memperoleh kebaikan dan keberuntungan, kita harus memperoleh cahaya terang. Dan sebaliknya kalau kita mempoleh kegelapan berarti kita masuk ke dalam lingkaran kejahatan dan kerugian.

Yang menarik, ternyata ‘cahaya’ dan ‘kegelapan’ itu digunakan oleh Allah di dalam firmannya sebagai ungkapan yang sesungguhnya. Misalnya ayat-ayat yang saya kutipkan di atas. Bahwa orang-orang yang beriman, kelak di hari kiamat, benar-benar akan memancarkan cahaya di wajahnya. Sedangkan orang-orang kafir, justru kehilangan cahaya alias wajahnya gelap gulita.

Dari manakah cahaya di wajah orang beriman itu muncul? Ternyata berasal dari berbagai ibadah yang dilakukan selama ia hidup di dunia. Setiap ibadah yang diajarkan rasulullah kepada kita selalu mengandung dua unsur, yaitu ingat kepada Allah (dzikrullah) dan membaca firmanNya yang berasal dari KitabNya. Baik ketika kita membaca syahadat, melakukan shalat, mengadakan puasa, berzakat, maupun melaksanakan ibadah haji.

Nah, dari kedua kedua unsur itulah cahaya Allah muncul. Bagaimanakah mekanismenya? Sebagaimana dikatakan di atas, bahwa Allah adalah sumber cahaya langit dan Bumi. Maka ketika kita berdzikir kepada Allah, kita sama saja dengan memproduksi getaran getaran cahaya. Asalkan berdzikirnya khusyuk dan menggetarkan hati. Kuncinya adalah pada ‘hati yang bergetar.’

Hati adalah tempat terjadinya getaran yang bersumber dari kehendak jiwa. Ketika seseorang marah, maka hatinya akan berdegup keras. Semakin marah ia, semakin kencang juga getarannya. Demikian pula ketika seseorang sedang sedih, gembira, berduka, tertawa, dan lain sebagainya.

Getaran yang kasar akan dihasilkan jika kita sedang dalam keadaan emosional. Sebaliknya getaran yang lembut akan muncul ketika kita sedang sabar, tenteram dan damai.

Ketika sedang berdzikir, hati kita akan bergetar lembut. Hal ini dikemukan oleh Allah, bahwa orang yang berdzikir hatinya akan tenang dan tenteram.

QS. Ar Ra’d (13) : 28
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram.”

Ketika seseorang dalam keadaan tenteram, getaran hatinya demikian lembut. Amplitudonya kecil, tetapi frekuensinya sangat tinggi. Semakin tenteram dan damai hati seseorang maka semakin tinggi pula frekuensinya. Dan pada, suatu ketika, pada frekuensi 10 pangkat 13 sampai pangkat 15, akan menghasilkan frekuensi cahaya.

Jadi, ketika kita berdzikir menyebut nama Allah itu, tiba-tiba hati kita bisa bercahaya. Cahaya itu muncul disebabkan terkena resonansi kalimat dzikir yang kita baca. lbaratnya, hati kita adalah sebuah batang besi biasa, ketika kita gesek dengan besi magnet maka ia akan berubah menjadi besi magnetik juga. Semakin sering besi itu kita gesek maka semakin kuat kemagnetan yang muncul daripadanya.

Demikianlah dengan hati kita. Dzikrullah itu menghasilkan getaran-getaran gelombag elektromagnetik dengan frekuensi cahaya yang terus menerus menggesek hati kita. Maka, hati kita pun akan memancarkan cahaya. Kuncinya, sekali lagi, hati harus khusyuk dan tergetar oleh bacaan itu. Bahkan, kalau sampai meneteskan air mata.

Unsur yang kedua adalah ayat-ayat Qur’an. Dengan sangat gamblang Allah mengatakan bahwa Al Qur’an ada cahaya. Bahkan, bukan hanya Al Qur’an, melainkan seluruh kitab-kitab yang pernah diturunkan kepada para rasul itu mengandung cahaya.

QS. An Nisaa’ (4) : 174
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).”

QS. Al Maa’idah (5 ) : 44
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya …”

QS Al Maa’idah (5 ) : 46
“Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil, sedang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya . . . “

Artinya, ketika kita membaca kalimat-kalimat Allah itu kita juga sedang mengucapkan getaran-getaran cahaya yang meresonansi hati kita. Asalkan kita membacanya dengan pengertian dan pemahaman. Kuncinya, hati sampai bergetar. Jika tidak mengetarkan hati, maka proses dzikir atau baca Al Qur’an itu tidak memberikan efek apa-apa kepada jiwa kita. Yang demikian itu tidak akan menghasilkan cahaya di hati kita.

Apakah perlunya menghasilkan cahaya di hati kita lewat kegiatan dzikir, shalat dan ibadah-ibadah lainnya itu? Supaya, pancaran cahaya di hati kita mengimbas ke seluruh bio elektron di tubuh kita. Ketika cahaya tersebut mengimbas ke miliaran bio elektron di tubuh kita, maka tiba-tiba badan kita akan memancarkan cahaya tipis yang disebut ‘Aura’. Termasuk akan terpancar di wajah kita.

Cahaya itulah yang terlihat di wajah orang-orang beriman pada hari kiamat nanti. Aura yang muncul akibat praktek peribadatan yang panjang selama hidupnya, dalam kekhusyukan yang sangat intens. Maka Allah menyejajarkan atau bahkan menyamakan antara pahala dan cahaya, sebagaimana firman berikut ini.

QS. Al Hadiid (57) : 19
“… bagi mereka pahala dan cahaya mereka…”

Dan ternyata cahaya itu dibutuhkan agar kita tidak tersesat di Akhirat nanti. Orang-orang yang memililki cahaya tersebut dapat berjalan dengan mudah, serta memperoleh petunjuk dan ampunan Allah. Akan tetapi orang-orang yang tidak memiliki cahaya, kebingungan dan berusaha mendapatkan cahaya untuk menerangi jalannya.

QS. Al Hadiid (57) : 28
“…dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu.”

QS. Al Hadiid (57) 13
“Pada hati ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman : “Tunggulah kami, supaya kami bisa mengambil cahayamu.”
Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang, dan carilah sendiri cahaya (untukmu). “Lalu diadakanlah di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa.”

QS. Ali lmraan (3) : 106 – 107
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri dan ada Pula yang menjadi hitam muram. ‘Ada pun orang-orang yang hitam muram mukanya, (dikatakan kepada mereka) : kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.

“Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal di dalamnya.”

Jadi, selain wajah yang memancarkan cahaya, Allah juga memberikan informasi tentang orang-orang kafir yang berwajah hitam muram. Bahkan di QS. 10 : 27 dikatakan Allah, wajah mereka gelap gulita seperti tertutup oleh potongan¬-potongan malam.

Dalam konteks ini memang bisa dimengerti bahwa orang -orang kafir yang tidak pernah beribadah kepada Allah itu wajahnya tidak memancarkan aura. Sebab hatinya memang tidak pernah bergetar lembut. Yang ada ialah getaran-getaran kasar.

Semakin kasar getaran hati seseorang, maka semakin rendah pula frekuensi yang dihasilkan. Dan semakin rendah frekuensi itu, maka ia tidak bisa menghasilkan cahaya.

Bahkan kata Allah, di dalam berbagai firmanNya, hati yang semakin jelek adalah hati yang semakin keras, tidak bisa bergetar. Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, tingkatan hati yang jelek itu ada 5, yaitu : 1. Hati yang berpenyakit (suka bohong, menipu, marah, dendam, iri, dengki disb), 2. Hati yang mengeras. 3. hati yang membatu. 4. Hati yang tertutup. dan 5. Hati yang dikunci mati oleh Allah.

Maka, semakin kafir seseorang, ia akan semakin keras hatinya. Dan akhirnya tidak bisa bergetar lagi, dikunci mati oleh Allah. Naudzu billahi min dzalik. Hati yang:seperti itulah yang tidak bisa memancarkan aura. Wajah mereka gelap dan muram.

QS. Az Zumaar (39) : 60
“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta kepada Allah, mukanya menjadi hitam.”

QS. Al An’aam (6) : 39
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita…”

Seperti yang telah saya kemukakan di depan, bahwa ternyata kegelapan itu ada kaitannya dengan kemampuan indera seseorang ketika dibangkitkan. Di sini kelihatan bahwa orang-orang kafir itu dibangkitkan dala keaaan tuli, bisu, buta, dan sekaligus berada di dalam kegelapan. Sehingga mereka kebingungan. Dan kalau kita simpulkan semua itu disebabkan oleh hati mereka yang tertutup dari petunjuk-petunjuk Allah swt.

QS. Al Hajj (22) : 8
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab yang bercahaya.”

QS. Al Maa’idah (5 ) : 16
“…dan (dengan kitab itu) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya.”

QS. Al A’raaf (7) : 157
“…dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

QS. An Nuur (24) : 40
“…dan barangsiapa tidak diberi cahaya oleh Allah, tidaklah ia memiliki cahaya sedikit pun.”

QS. At Tahriim (66) : 8
“Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah, dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan para nabi dan orang-orang beriman yang bersama dengan dia, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan : Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Halaman Berikutnya »